adi onggoboyo’s note

Ujian Nasional (UN) Kejujuran

Posted on: March 25, 2010

Mulai Senin 22 Maret 2010, Ujian Nasional (UN) kembali digelar. Dimulai dari tingkat SMA, kemudian dilanjutkan dengan tingkat SMP dan SD pada minggu-minggu berikutnya. Kecemasan pun muncul. Tidak hanya pada siswa yang mengikuti UN yang kuatir tidak lulus, namun juga pihak sekolah hingga dinas pendidikan pada tingkat daerah. Motifnya tentu dapat beragam, misalnya sekolah tidak ingin kehilangan kredibilitasnya sebagai sekolah yang tingkat ketidaklulusan UN-nya tinggi, atau bisa saja karena para pejabat sekolah dan dinas pendidikan tidak ingin kehilangan reputasi pribadinya.

Sejak diberlakukannya model UN oleh Depdiknas, kontroversi tentang UN terus bergulir hingga kini, dimana dua kutub ekstrimnya bermuara pada perlu ada tidaknya UN bagi siswa. Terlepas dari kontroversi tersebut, terdapat hal yang lebih penting tentang bagaimana pendidikan juga harus menghasilkan karakter bangsa yang berintegritas, salah satunya adalah kejujuran.

Bahwa kejujuran masih merupakan hal yang langka di negara Indonesia, kita semua sudah mafhum. Tindakan korupsi dan sogok menyogok yang kerap diberitakan, baik dari tingkat elit nasional hingga ke elit desa, menjadi sebuah cerminan, betapa rapuhnya karakter bangsa ini. Ironis, sebab bangsa kita mayoritas memeluk agama Islam yang sangat menekankan arti pentingnya kejujuran. Simaklah contoh ayat berikut: “Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur” (QS: At-Taubah: 119). Atau cobalah tengok hadits ini, bahwa ada seseorang di zaman Nabi SAW yang bertanya kepadanya, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku, apa yang paling berat dan apa yang paling ringan dalam beragama Islam? (Nabi SAW bersabda): Yang paling ringan dalam beragama Islam ialah membaca syahadat atau kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah. Sedang yang paling berat adalah hidup jujur (dapat dipercaya). Sesungguhnya, tidak ada agama bagi orang yang tidak jujur. Bahkan, tidak ada shalat dan tidak ada zakat bagi mereka yang tidak jujur.” (HR Ahmad Bazzar).

Perilaku tidak jujur yang telah membudaya dalam dinamika yang dicontohkan para pemimpin bangsa kita, tentu saja tidak bisa dibiarkan. Sekolah sebagai salah satu agen sosialisasi sekunder yang penting, diharapkan akan menjadi garda terdepan dalam rangka internalisasi nilai-nilai dan norma-norma sosial yang baik. Sekolah memiliki ‘kekuatan yang memaksa’ untuk penanaman karakter bangsa yang berbudaya luhur. Kejujuran wajib tumbuh subur pada semua elemen pelaku yang terlibat dalam dinamika pendidikan, khususnya siswa, orang tua, guru, pengawas pendidikan, dan pemerintah.

UN yang jujur

Sejak UN digelar, didapati banyak sekali laporan tentang adanya kebocoran soal, jual-beli kunci jawaban, atau contek-mencontek. Kalangan yang kontra akan adanya UN, salah satu alasannya adalah dengan melihat bahwa struktur telah menyebabkan terjadinya semacam ‘paksaan’ yang mengarahkan siswa dan para praktisi pendidikan melakukan perilaku menyimpang: siswa mencontek kunci jawaban, orang tua yang membelikan, beberapa sekolah terkadang ikut berperan, dan bisa saja pihak dinas pendidikan mengkatrol nilai-nilai murni yang dihasilkan agar persentase kelulusan jadi makin tinggi di area kerjanya. Alasan ini menjadi salah satu alasan mengapa UN pada akhirnya tidak perlu diadakan lagi.

Secara subyektif, ketika saya bersekolah dulu dengan ujian akhir model EBTANAS, cukup banyak teman saya yang pada saat ujian berlangsung mencontek atau bekerjasama dengan berbagai cara, termasuk juga ada beberapa yang berusaha mencari bocoran kunci jawaban. Gambaran ini setidaknya membuat kita mesti berfikir bahwa bangunan struktur yang lama –yang cenderung tidak sekontroversial UN- dengan yang baru sama-sama tidak signifikan untuk dijadikan biang keladi ketidakjujuran dalam UN dalam bingkai keterpaksaan.

Barangkali kalangan psikologi akan melihatnya sebagai sebuah agresi dari frustasi karena ketidakmampuan atau ketidaksiapan dalam menghadapi UN. Sebelum adanya UN, semua sekolah tenang-tenang saja mengingat hasil ujian akhir tidak serta merta menentukan kelulusan. Padahal gap yang terbentuk antara nilai hasil ujian akhir nasional dengan ujian akhir sekolah terlalu tinggi, yang lagi-lagi dapat mencerminkan ketidakjujuran dalam kaitan pengkatrolan nilai yang dilakukan pihak sekolah (Pernahkah para guru berintrospeksi diri bahwa kerap kali nilai akhir yang diberikan ke siswa lebih sebagai ‘nilai kasih sayang’ daripada nilali murni??). Setelah adanya UN, semua mendadak berubah, tekanan menjadi tinggi, berujung ke frustasi. Siswa yang selama ini terbiasa santai dan tidak memiliki etos kerja keras dalam belajar, alih-alih terpacu menjadi lebih baik, melainkan lebih agresif menyuarakan keluhan dan penolakan terhadap UN,  berujung pada ketidakjujuran untuk dapat lulus UN.

Saya sendiri lebih suka melihatnya menggunakan perspektif sistem ala Niklas Luhmann, sosiolog Jerman yang banyak meletakkan cara pandang baru ke arah sociocybernetics. Sistem psikis pada manusia dan sistem sosial yang mengacu pada komunikasi adalah dua buah sistem yang berbeda. Keduanya berperilaku independen, masing-masing saling melihat yang lain sebagai lingkungan, dan berdinamika atas putusan dari sistem itu sendiri. Masing-masing sistem saling mentrigger untuk kemudian trigger itu diterjemahkan sebagai masukan (input) yang diakhiri dengan pengembilan keputusan mandiri pada sistem yang bersangkutan.

Maka menuding UN sebagai keladi struktural yang memaksa siswa dan pelaku pendidikan berperilaku menyimpang ke arah ketidakjujuran, adalah sebuah hal yang menjadi tidak relevan. Sekalipun kita katakanlah kontra dengan UN, tentu saja tetap bukan jalan yang baik untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya itu dengan membenarkan tindakan-tindakan tidak jujur. Jika ini terjadi, maka habislah sudah fungsi sekolah untuk  merajut benang-benang integritas pribadi yang jujur. Keputusan untuk berlaku tidak jujur dengan begitu lebih pada sebuah keputusan mandiri. Tentu saja pertanggungjawaban atas pilihan takdir kita tidak ditimpakan pada struktur, melainkan atas dasar kesadaran kita untuk memilih, jalan baik (taqwa) atau jalan buruk (fujur). Sehingga, didapati suatu simpulan bahwa seburuk apapun situasi lingkungan dimana kita berada, nilai-nilai luhur yang kita pegang dengan kuat itulah yang akan memandu dalam pengambilan keputusan untuk tetap berlaku jujur.

Mari kita saksikan bersama UN tahun ini. Sesungguhnya yang benar-benar lulus dalam UN ini adalah bagi mereka yang bertindak penuh kejujuran. Merekalah para pemenang sejati, yang berhasil lulus dalam ujian kehidupan, persis seperti yang pernah cendikiawan Yunani katakan 2000 tahun silam, Non scholae, sed vitae discimus: Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup! “Jikalau mereka jujur kepada Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka” (QS. Muhammad:21)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 11,599 hits

Pages

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: