adi onggoboyo’s note

Stagnasi Dalam Ketaksadaran

Posted on: June 16, 2011

Keniscayaan perubahan dapat bersifat cepat atau lambat. Andai serpih-serpih dalam kehidupan kita tidak berjalan dalam rangkai-rangkai yang ekstrim atau tidak dipicu dalam dinamika yang penuh energi, maka kecenderungan perubahan yang melambat akan terjadi. Tatkala horizon waktu merambat menghabisi usia, dalam suatu ketaksadaran yang perlahan tapi pasti, rasa akan stagnasi kehidupan dimungkinkan terjadi. Di saat tiba-tiba diri berfikir bahwa pikiran tidak seenergik pada kutipan masa lalu untuk berfikir keras tentang hakikat kehidupan dan rasa penasaran yang tinggi pada ilmu pengetahuan, maka dititik itu stagnasi akan pikiran mulai terasa. Bahwa larut dalam sebuah dinamika struktur baru di ruang-ruang kerja yang begitu monoton, penuh formalisasi administratif, relasi antar struktur yang penuh multimuka multitafsir, ditambah dengan intrik-intrik tak elok di lingkup kecil: Semula sadar lalu biasa hingga ketidaksadaran menghinggap dan membuat pada suatu titik stagnasi.

Lebih celaka tatkala mengkontemplasikan situasi lebih dalam lagi bahwa stagnasi pikiran itupun bergerak sejalan dengan perilaku dan cara bergerak. Akselerasi positif untuk peningkatan perilaku yang lebih matang, dinamika gerak yang lebih bergairah, menjadi ikut-ikutan tumpul: mereka dikendalikan oleh pikiran.

Baiklah, benar bahwa bahwa yang dianggap kecil tidaklah kemudian tidak berarti dan yang nampak lebih strategis adalah langkah besar: tapi semua langkah yg dipilih-selama dalam rangka ketundukan ibadah kepadaNya dgn memurnikan keikhlasan- adalah langkah-langkah besar. Tapi kemudian, ketika diri mengobservasi dirinya sendiri untuk mengoptimalisasi pilihan-pilihan takdirnya, tidak selamanya langkah-langkah kecil yang ikhlas akan cukup bagi orang-orang yang punya kapasitas melakukan langkah-langkah strategis yang ikhlas. Meski dua-duanya dibalut keihkhlasan, pertanyaan yang kerap menggelayut itu ialah: jika dirimu diberi potensi yang lebih besar untuk melakukan kerja dalam sekup membawa maslahat pada situasi yang lebih luas, tapi dirimu melakakukan kerja di lingkup kecil, bagaimanakah selisihnya itu? apakah bakal dimintai pertanggungjawaban sebagai semacam kesalahan?

Inilah saatnya bangkit lagi dalam bangunan kesadaran baru yang akan mewujudkan cita-cita mulia itu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 11,599 hits

Pages

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: