adi onggoboyo’s note

Archive for August 2011

Twitter di pakai untuk pembelajaran di kelas? bagaimana mungkin? Jawabannya: sangat mungkin! 🙂 Berikut ini penjelasan saya yang sudah saya tweet-kan kemarin di twitland, saya rekam ulang dalam bentuk narasi di storify. Langsung saja gan menuju tekape link storify di bawah ini:

View “Twitter Untuk Pembelajaran” on Storify

 

Advertisements

Tatkala tradisi lisan transfer pengetahuan bertemu dengan situasi digital, muncullah cara baru untuk dikembangkan sebagai metode pembelajaran: Digital Storytelling!

Digital storytelling pada dasarnya adalah suatu kegiatan mengkombinasikan narasi cerita dengan konten digital, yang didalamnya termasuk gambar, suara, musik, atau video, sehingga dihasilkan sebuah film singkat yang menarik. Digital storytelling dapat dibuat dalam format instruksional untuk pengajaran, persuasif, historis, atau sebagai kegiatan reflektif. Banyak ahli pendidikan percaya bahwa digital storytelling dapat diterapkan di berbagai mata pelajaran, dan dapat mengakomodasi berbagai macam gaya belajar siswa.

Pada penerapannya, sebagai contoh di dalam mata pelajaran ilmu-ilmu sosial untuk siswa. Pertama, siswa ditugaskan untuk melakukan riset kecil atau observasi terkait situasi sosial kemasyarakatan yang mereka minati, yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dari suatu bab pembelajaran. Penugasan ini bisa bersifat individual atau kelompok. Penugasan kelompok punya sisi positif untuk meningkatkan kemampuan kerja sama, problem solving, dan saling menghargai perbedaan, yang semuanya itu adalah kompetensi lain yang harus dikembangkan dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Kedua, setelah siswa mendapatkan data, mereka melaporkannya melalui rangkaian kombinasi narasi yang diucapkan siswa secara verbal dengan konten digital dalam sebuah digital storytelling. Format pelaporan ini akan menjadi lebih sederhana dibandingkan dengan format tata tulis karya ilmiah yang kerap membuat siswa agak malas membuatnya, karena sangat rigid dan formal tata aturan penulisannya. Siswa hanya membutuhkan sedikit keterampilan untuk software pengolah konten digital seperti Photostory atau Movie Maker, ditambah dengan mikrofon untuk pengisian suara.

Ketiga, hasil digital storytelling yang dibuat siswa akan diapresiasi bersama, didiskusikan di dalam kelas, atau bisa juga dikompetisikan di sekolah. Keempat, semua digital storytelling karya siswa dapat kemudian di unggah melalui jejaring sosial di internet untuk saling berbagi, berpartisipasi, berkolaborasi lebih lanjut, mendistribusikan pengetahuan untuk spektrum yang lebih luas.

Untuk pembelajaran bidang ilmu-ilmu sains, bisa dikreasikan misalnya dengan pembuatan digital storytelling untuk praktikum biologi, fisika, atau kimia. Pada tataran ini, guru dapat melihat laporan proses jalannya percobaan yang lebih objektif, dan bisa menyimpulkan apakah siswa sudah melakukannya dengan benar atau tidak, sehingga guru dapat meminimalisir peluang terjadinya manipulasi data yang dilaporkan oleh siswa secara tertulis. Untuk pelajaran bahasa inggris, digital storytelling akan sekaligus mengasah kemampuan berbahasa inggris dengan baik dan benar. Pada intinya, metode digital storytelling dapat dipakai di semua mata pelajaran.

Banyak keuntungan menggunakan metode ini. (1) Memperkaya cara pendekatan lisan yang selama ini kerap dipakai sebagai alat transfer nilai dan norma, (2) Siswa mengekspresikan diri mereka tidak lagi dengan kata-kata tertulis, namun juga dengan suara yang terintegrasi dengan konten digital, membuat rasa memiliki yg baik terhadap karya, juga sebagai representasi diri yang meneguhkan identitas mereka, (3) membuat pembelajaran lebih menarik, lebih menantang, tidak membosankan, dan berpeluang untuk mengasah semangat kompetisi, mengembangkan kreativitias dan inovasi, kebersamaan dalam kelompok, sekaligus bagi guru dapat menjadi tempat untuk memberikan penghargaan yang baik atas karya siswa, (4) memungkinkan diproduksi secara rutin untuk di distribusi dan kemungkinan dikolaborasi lebih lanjut melalui partisipasi melalui media sosial di internet, sekaligus mempercepat tersebarnya konten pengetahuan untuk semua.

Berbicara teacherpreneur, yang mungkin terbetik di dalam pikiran kita -karena ada preneur-preneur nya- adalah sesuatu yang berkaitan dengan guru yang menjadi pengusaha. Agar tidak saya ulang, berikut saya copy-kan tweet sy beberapa waktu lalu tentang teacherpreneur:

(1) lg mikir&renung, di amrik sono muncul ide ttg teacherpreneur, naon deui eta?, (2) klo sepintas ada preneur2-nya kira2 bgmn guru jg bisa punya jiwa kewirausahaan yg bs membuat mrk lbh mapan scr pendapatan, (3) tp klo pas baca2, teacherpreneur tdk berfokus pd uang, tp pd leadership, inovasi dan pengembangan diri seorang guru diluar tgs ngajar, (4) mesti dilihat bhwa konsep teacherpreneurship muncul dlm situasi latar guru2 di amrik, bkn di Indonesia #teacherpreneur, (5) dimana di amrik dlm sebuah skolah, rata2 dikelola scr profesional dgn tugas org2 yg terlibat di dlmnya sangat spesifik #teacherpreneur, (6) inti dr teacherpreneur adlh memperluas role seorang teacher mjd multi-role tdk skadar fokus pd siswa n kelas #teacherpreneur, (7) tp ia bs jg sbg writer u/buku sekolah, dosen universitas, ikut dlm aktivits kebijakan publik, curriculum specialist, dst #teacherpreneur, (8) dlm konteks amrik, teacherpreneur jd konsep menarik, tp *mnrt sy* dlm konteks indonesia, rasanya jd bkn hal baru #teacherpreneur, (9) di Indo, guru yg multi-role ckp bnyk ditemui,hny sj motifny beda, bnyk yg krn motif survival u/kelayakan hidup lbh baik #teacherpreneur, (10) lbh baik disini mksdny scr finansial. Jd finansial dl, br isu pngembangan diri.Di amrik,yg lbh dpn pngmbangan diri dulu #teacherpreneur, (11) nah,jika mo nerapin konsep teacherpreneur di indo, mesti di redefinisi ulang dan di re-model scr kontekstual qt #teacherpreneur, (12) dimna motif pngmbngnd diri + inovasi itu dimotifkn lbh dulu, br finansial mnysul otomatis #teacherpreneur, (13) tp ada catatan lain, semua tgs guru yg dirasa krng pnting, hrs dibuang, skolah hrs berani menetapkan prioritas #teacherpreneur, (14) sekolah progresif transformatif hrs lbh fleksibel-kritsi dlm penerapan konten yg kerap imperatif dr struktur kekuasaan #teacherpreneur, (15) di amrik,yg namany RPP segede tesis kyk di indo brikut sgala analisis jelimetny GAK ADA, lesson plan sngt simpel #teacherpreneur, (16) klo skolah brani,dobrak kejelimetan yg kntraproduktif yg bwt guru fiktif u/ brkmabng scr kontentual u/dganti inovasi br #teacherpreneur, (17) shg pd akhirny guru bs lbh optimis, brkmabng akseleratif, berdaya guna dan konsep #teacherpreneur lbh bs diujiterapkan dgn baik, (18) mnemukn sosok guru yg mngkin dkt dgn konsep #teacherpreneur yg sy pahami spt pa agus @gurukreatif dr bintaro n pak jay dr labschool jkt, (19) qt bth bnyk guru kyk mrk @gurukreatif, mdh2an gerakan @gurudigitaleuy bs memulai lngkah kecil itu.tetap semangat! 🙂 #teacherpreneur

Dari penjelasan diatas, saya berfikir bahwa kalau konsep teacherpreneur diterapkan di sekolah dengan mengacu pada kekuatan guru seperti pak agus sampurno sang @gurukreatif, maka setidaknya konsep ini bisa sangat powerful jika dipakai pada sekolah swasta pada khususnya. Mengapa sekolah swasta? pada umumnya sekolah swasta bergantung pada jumlah murid yang masuk. Karena banyak sekolah swasta yang hanya mengandalkan kapital dari input siswa yang masuk, pada akhirnya hal tersebut berpengaruh pada pendapatan guru-gurunya. Pun jika sekolah swasta tersebut katakanlah favorit, pada kenyataannya banyak dari guru sekolah swasta memilih pindah ke sekolah negeri, atau bisa juga meski sekolah swasta tersebut bergengsi namun pendapatan gurunya jika dikomparasi dengan pekerjaan profesional lainnya, akan tergolong kecil. Dengan alasan keterbatasan dan pengketatan finansial, sekolah swasta pada akhirnya juga kurang memiliki kesempatan lebih baik untuk program pengembangan profesional guru-gurunya: sebab, program2 usulan yang banyak masuk ke sekolah dari pihak luar untuk pengembangan guru biaya trainingnya tidak terbilang murah.

Nah sekarang, bagaimana jika kita ekspansikan konsep teacherpreneurship ini dengan situasi umum sekolah swasta tersebut? caranya bagaimana?:

1) Di tahap awal, sekolah/yayasan harus mengeluarkan energi dan biaya untuk melakukan training intensif tentang semua hal yang berkaitan dengan pengembangan profesional guru, khususnya terkait dengan pembelajaran di dalam kelas. Pada titik ini, diharapkan akan lahir guru-guru yang sudah terlatih dan lebih keren dari sebelumnya.

2) Aplikasikan konsep-konsep yang sudah dipelajari di training pada pembelajaran di kelas atau pada kegiatan guru yang berhubungan dengan pendidikan.

3) Guru-guru tersebut kemudian akan sudah memiliki pengalaman yang baik. Mereka sudah mulai mahir. Pada titik ini para guru mesti dipandang sebagai seorang yang ahli/profesional yang siap mentransfer pengetahuan dan pengalamannya kepada guru-guru lainnya atau tatkala mereka harus bicara tentang dunia pendidikan di negara kita.

4) Guru-guru dipacu untuk sharing pengalaman dan pengetahuannya via dunia social media. Lalu Yayasan/sekolah mulai memperbolehkan fleksibilitas terbatas guru-gurunya untuk pengembangan diri lebih luas dengan cara berbagi dengan guru-guru di sekolah lainnya via format-format training yang diduplikasi atau memang dibuat sendiri secara kreatif. Yayasan/sekolah akan berfungsi sebagai semacam ‘lembaga training/konsultan pendidikan’ yang SDM guru-gurunya siap untuk bicara tentang segala aspek dunia pendidikan (apalagi hingga masalah teknis dalam pembelajaran).

5) Yayasan/sekolah mencari ‘klien’ apabila ada sekolah lain yang membutuhkan training untuk guru-gurunya, atau guru dapat aktif mencari sendiri peluang sekolah-sekolah yang guru-gurunya perlu untuk ditraining. Model lainnya, Yayasan/sekolah dapat mencari sponsor atau kerjasama dengan CSR perusahaan-perusahaan untuk membiayai training-training yang diadakan buat guru.

6) Jika kemudian ada ‘klien’ yang perlu untuk ditraining, maka yayasan/sekolah dapat menugaskan guru di sekolahnya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Atau kalau dari gurunya duluan yang dapat ‘klien’, yayasan/sekolah hendaknya mengizinkan guru tersebut untuk berangkat menjadi trainer pendidikan sekalipun itu di luar pulau di seluruh nusantara selama tidak mengganggu jam mengajar di kelas.

7) dari poin 6, maka guru-sekolah/yayasan dapat melakukan profit sharing untuk keuntungan masing2. Selain itu, sekolah swasta tersebut akan dapat keuntungan lebih yaitu: Nama sekolahnya sekaligus makin dikenal banyak kalangan. Guru dapat keuntungan finansial, pengembangan diri dan kepribadian, pengembangan wawasan dan cara pandang (apalagi jika mesti ke berbagai daerah sharing dengan guru2 di berbagai penjuru), pengembangan profesionalitas kerja, dan tentunya peningkatan pendapatan 🙂 dan juga guru tersebut akan makin mahir dalam pembelajaran pada saat mesti kembali ke sekolahnya. Selain itu, hal ini juga merupakan kesempatan yang bagus untuk studi banding dengan sekolah sekolah lain sehingga ketika banyak guru dari sekolah yang bersangkutan ingin mengembangkan sekolahnya, ide-ide untuk pengembangannya yang lebih konstruktif jadi lebih kaya 🙂

Konsep teacherpreneurship ini juga pada akhirnya dapat berefek pada makin percaya dirinya para guru untuk berbicara pada kapasitasnya sebagai guru yang juga merangkap ahli-praktisi pendidikan. Jadi, SUDAH SAATNYA GURU YANG BERBICARA tentang tetek bengek pendidikan di negeri ini agar lebih membumi dengan situasi aslinya di lapangan. Guru harus yakin dan percaya bahwa mereka pun sanggup untuk maju dan bicara banyak tentang dunia pendidikan yang mereka geluti, dan guru harus yakin dan percaya bahwa profesinya bukan sembarangan profesi, suatu profesi yang keren dan tidak kalah dengan profesi-profesi lainnya.

Maju Terus Pendidikan Indonesia!

Jadi berfikir banyak tatkala master unlock mental block mas ismal zeva mengajak saya untuk ikut dalam training hypnoteching untuk para guru se-Sumatera Barat di Bukittinggi beberapa hari lalu. Selain membantu mas ismal, saya disana memberikan pengantar materi tentang penggunaan ICT bagi guru untuk media kedekatan dengan siswa.

Mas Ismal banyak berkutat pada konsep-konsep yang berakar pada Neuro Linguistic Programme (NLP) yg dipadu dengan seni komunikasi yang berujung pada siswa yang ter’hipnotis’ untuk terus fokus pada guru dan konten pembelajaran yang disampaikan guru. Dalam beberapa hal, sosiologi yg saya pelajari, agaknya bakalan powerful jika dikombinasi dengan konsep-konsep NLP dan penggunaan ICT untuk pembelajaran.

Dalam framework pendidikan abad ke-21, salah satu fokus penting yang ditekankan untuk para guru adalah literasi media, informasi dan ICT skills. Saya menyajikan banyak sekali data-data yang menunjukkan bahwa dunia digital dan social media di Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Beberapa diantaranya ialah fakta bahwa pengguna Facebook Indonesia adalah yang terbanyak kedua di dunia setelah amerika serikat. Kemudian Jakarta merupakan salah satu pemposting blog teraktif di dunia. Di Indonesia, 8 dari 10 orang mengakses internet melalui mobile. Dan masih banyak lagi data-data yang menunjukkan bahwa siswa kita hari ini, adalah DIGITAL LERNERS, pembelajar digital…

Pada titik itulah guru mendapatkan sebuah tantangan baru untuk bisa melek penggunaan ICT dalam pembelajaran dan pendidikan, atau jika tidak, kemampuan siswa akan jauh melampaui gurunya. Semangat itu selaras dengan salah satu framework pembelajaran abad 21 dimana guru harus punya kemampuan adaptabilitas dan fleksibilitas yang tinggi terhadap perubahan. Guru harus terus menjadi seorang pembelajar.

Pada struktur dunia rata di jagad mayantara, tentunya akan mengakibatkan siswa juga mengalami perubahan behavior yang tidak seperti halnya di dunia nyata. Perubahan ini harus disikapi secara arif bijaksana sebagai suatu hal yang lumrah dan bukan untuk ditindak secara defensif. Guru dihadapkan pada tantangan lain untuk memahami karakteristik dunia virtual untuk dapat mengadaptasikan diri dengan perubahan yang cepat.

Dalam struktur rata itu, guru yang terbiasa stratifikatif akan dimungkinkan mengalami cultural shock. Posisi yang saling egaliter ini pada gilirannya juga menggeser paradigma guru-murid sebagai sama-sama pembelajar dan saling belajar, dan keduanya bisa berperan saling terbalik.  Bagi sebagian siswa, situasi yang egaliter itu termanifestasikan dalam simbol simbol struktur lain seperti struktur verbal linguistik. Strateginya, penggunaan struktur bahasa verbal ke siswa dapat bergeser menjadi lebih egaliter untuk menjangkar emosi siswa, misalnya pengubahan kata ganti Bapak atau ibu menjadi saya atau aku. Guru juga ditantang untuk memanipulasi, memodifikasi, dan mengelola resource struktur sosial dan informasi untuk menyamakan ‘frekuensi’ dengan siswa yang diajar.

Bahasa psikologisnya, guru menyamakan ‘frekuensi’ siswa untuk pada akhirnya menghipnotis siswa sehingga fokus terhadap guru dan konten pembelajaran yang ditransmisikan atau di diskusikan. Secara sosiologis, memanipulasi struktur dapat misalnya dengan penggunaan maksimal ICT untuk pembelajaran. Guru yang terbiasa bicara hanya dengan salah satu jenis intonasi kinestesik, akan terbantu dengan komplemen audio atau multimedia guna memfasilitasi para pendengar yang memiliki tipe belajar auditori dan visual. Guru bisa juga membuat digital storytelling di awal/akhir proses pembelajaran untuk menginspirasi atau memotivasi siswa, atau bahkan bisa langsung connect ke konten pembelajaran (sebagai penghubung yang terhubung). Guru juga bisa menggunakan social media untuk ‘membongkar’ dinamika siswa sehingga relasi emosi guru-siswa sangat kuat.

Ayo rekan guru Indonesia, kita intensifkan percepatan dan adaptasi kultural penggunaan ICT utk pembelajaran, sekaligus untuk meminimalkan digital divide untuk skill IT bagi para guru. Transformasi untuk kemajuan pendidikan! Maju terus pendidikan Indonesia..


Blog Stats

  • 11,651 hits

Pages

Twitter Updates