adi onggoboyo’s note

Teacherpreneur di Sekolah Swasta

Posted on: August 12, 2011

Berbicara teacherpreneur, yang mungkin terbetik di dalam pikiran kita -karena ada preneur-preneur nya- adalah sesuatu yang berkaitan dengan guru yang menjadi pengusaha. Agar tidak saya ulang, berikut saya copy-kan tweet sy beberapa waktu lalu tentang teacherpreneur:

(1) lg mikir&renung, di amrik sono muncul ide ttg teacherpreneur, naon deui eta?, (2) klo sepintas ada preneur2-nya kira2 bgmn guru jg bisa punya jiwa kewirausahaan yg bs membuat mrk lbh mapan scr pendapatan, (3) tp klo pas baca2, teacherpreneur tdk berfokus pd uang, tp pd leadership, inovasi dan pengembangan diri seorang guru diluar tgs ngajar, (4) mesti dilihat bhwa konsep teacherpreneurship muncul dlm situasi latar guru2 di amrik, bkn di Indonesia #teacherpreneur, (5) dimana di amrik dlm sebuah skolah, rata2 dikelola scr profesional dgn tugas org2 yg terlibat di dlmnya sangat spesifik #teacherpreneur, (6) inti dr teacherpreneur adlh memperluas role seorang teacher mjd multi-role tdk skadar fokus pd siswa n kelas #teacherpreneur, (7) tp ia bs jg sbg writer u/buku sekolah, dosen universitas, ikut dlm aktivits kebijakan publik, curriculum specialist, dst #teacherpreneur, (8) dlm konteks amrik, teacherpreneur jd konsep menarik, tp *mnrt sy* dlm konteks indonesia, rasanya jd bkn hal baru #teacherpreneur, (9) di Indo, guru yg multi-role ckp bnyk ditemui,hny sj motifny beda, bnyk yg krn motif survival u/kelayakan hidup lbh baik #teacherpreneur, (10) lbh baik disini mksdny scr finansial. Jd finansial dl, br isu pngembangan diri.Di amrik,yg lbh dpn pngmbangan diri dulu #teacherpreneur, (11) nah,jika mo nerapin konsep teacherpreneur di indo, mesti di redefinisi ulang dan di re-model scr kontekstual qt #teacherpreneur, (12) dimna motif pngmbngnd diri + inovasi itu dimotifkn lbh dulu, br finansial mnysul otomatis #teacherpreneur, (13) tp ada catatan lain, semua tgs guru yg dirasa krng pnting, hrs dibuang, skolah hrs berani menetapkan prioritas #teacherpreneur, (14) sekolah progresif transformatif hrs lbh fleksibel-kritsi dlm penerapan konten yg kerap imperatif dr struktur kekuasaan #teacherpreneur, (15) di amrik,yg namany RPP segede tesis kyk di indo brikut sgala analisis jelimetny GAK ADA, lesson plan sngt simpel #teacherpreneur, (16) klo skolah brani,dobrak kejelimetan yg kntraproduktif yg bwt guru fiktif u/ brkmabng scr kontentual u/dganti inovasi br #teacherpreneur, (17) shg pd akhirny guru bs lbh optimis, brkmabng akseleratif, berdaya guna dan konsep #teacherpreneur lbh bs diujiterapkan dgn baik, (18) mnemukn sosok guru yg mngkin dkt dgn konsep #teacherpreneur yg sy pahami spt pa agus @gurukreatif dr bintaro n pak jay dr labschool jkt, (19) qt bth bnyk guru kyk mrk @gurukreatif, mdh2an gerakan @gurudigitaleuy bs memulai lngkah kecil itu.tetap semangat! πŸ™‚ #teacherpreneur

Dari penjelasan diatas, saya berfikir bahwa kalau konsep teacherpreneur diterapkan di sekolah dengan mengacu pada kekuatan guru seperti pak agus sampurno sang @gurukreatif, maka setidaknya konsep ini bisa sangat powerful jika dipakai pada sekolah swasta pada khususnya. Mengapa sekolah swasta? pada umumnya sekolah swasta bergantung pada jumlah murid yang masuk. Karena banyak sekolah swasta yang hanya mengandalkan kapital dari input siswa yang masuk, pada akhirnya hal tersebut berpengaruh pada pendapatan guru-gurunya. Pun jika sekolah swasta tersebut katakanlah favorit, pada kenyataannya banyak dari guru sekolah swasta memilih pindah ke sekolah negeri, atau bisa juga meski sekolah swasta tersebut bergengsi namun pendapatan gurunya jika dikomparasi dengan pekerjaan profesional lainnya, akan tergolong kecil. Dengan alasan keterbatasan dan pengketatan finansial, sekolah swasta pada akhirnya juga kurang memiliki kesempatan lebih baik untuk program pengembangan profesional guru-gurunya: sebab, program2 usulan yang banyak masuk ke sekolah dari pihak luar untuk pengembangan guru biaya trainingnya tidak terbilang murah.

Nah sekarang, bagaimana jika kita ekspansikan konsep teacherpreneurship ini dengan situasi umum sekolah swasta tersebut? caranya bagaimana?:

1) Di tahap awal, sekolah/yayasan harus mengeluarkan energi dan biaya untuk melakukan training intensif tentang semua hal yang berkaitan dengan pengembangan profesional guru, khususnya terkait dengan pembelajaran di dalam kelas. Pada titik ini, diharapkan akan lahir guru-guru yang sudah terlatih dan lebih keren dari sebelumnya.

2) Aplikasikan konsep-konsep yang sudah dipelajari di training pada pembelajaran di kelas atau pada kegiatan guru yang berhubungan dengan pendidikan.

3) Guru-guru tersebut kemudian akan sudah memiliki pengalaman yang baik. Mereka sudah mulai mahir. Pada titik ini para guru mesti dipandang sebagai seorang yang ahli/profesional yang siap mentransfer pengetahuan dan pengalamannya kepada guru-guru lainnya atau tatkala mereka harus bicara tentang dunia pendidikan di negara kita.

4) Guru-guru dipacu untuk sharing pengalaman dan pengetahuannya via dunia social media. Lalu Yayasan/sekolah mulai memperbolehkan fleksibilitas terbatas guru-gurunya untuk pengembangan diri lebih luas dengan cara berbagi dengan guru-guru di sekolah lainnya via format-format training yang diduplikasi atau memang dibuat sendiri secara kreatif. Yayasan/sekolah akan berfungsi sebagai semacam ‘lembaga training/konsultan pendidikan’ yang SDM guru-gurunya siap untuk bicara tentang segala aspek dunia pendidikan (apalagi hingga masalah teknis dalam pembelajaran).

5) Yayasan/sekolah mencari ‘klien’ apabila ada sekolah lain yang membutuhkan training untuk guru-gurunya, atau guru dapat aktif mencari sendiri peluang sekolah-sekolah yang guru-gurunya perlu untuk ditraining. Model lainnya, Yayasan/sekolah dapat mencari sponsor atau kerjasama dengan CSR perusahaan-perusahaan untuk membiayai training-training yang diadakan buat guru.

6) Jika kemudian ada ‘klien’ yang perlu untuk ditraining, maka yayasan/sekolah dapat menugaskan guru di sekolahnya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Atau kalau dari gurunya duluan yang dapat ‘klien’, yayasan/sekolah hendaknya mengizinkan guru tersebut untuk berangkat menjadi trainer pendidikan sekalipun itu di luar pulau di seluruh nusantara selama tidak mengganggu jam mengajar di kelas.

7) dari poin 6, maka guru-sekolah/yayasan dapat melakukan profit sharing untuk keuntungan masing2. Selain itu, sekolah swasta tersebut akan dapat keuntungan lebih yaitu: Nama sekolahnya sekaligus makin dikenal banyak kalangan. Guru dapat keuntungan finansial, pengembangan diri dan kepribadian, pengembangan wawasan dan cara pandang (apalagi jika mesti ke berbagai daerah sharing dengan guru2 di berbagai penjuru), pengembangan profesionalitas kerja, dan tentunya peningkatan pendapatan πŸ™‚ dan juga guru tersebut akan makin mahir dalam pembelajaran pada saat mesti kembali ke sekolahnya. Selain itu, hal ini juga merupakan kesempatan yang bagus untuk studi banding dengan sekolah sekolah lain sehingga ketika banyak guru dari sekolah yang bersangkutan ingin mengembangkan sekolahnya, ide-ide untuk pengembangannya yang lebih konstruktif jadi lebih kaya πŸ™‚

Konsep teacherpreneurship ini juga pada akhirnya dapat berefek pada makin percaya dirinya para guru untuk berbicara pada kapasitasnya sebagai guru yang juga merangkap ahli-praktisi pendidikan. Jadi, SUDAH SAATNYA GURU YANG BERBICARA tentang tetek bengek pendidikan di negeri ini agar lebih membumi dengan situasi aslinya di lapangan. Guru harus yakin dan percaya bahwa mereka pun sanggup untuk maju dan bicara banyak tentang dunia pendidikan yang mereka geluti, dan guru harus yakin dan percaya bahwa profesinya bukan sembarangan profesi, suatu profesi yang keren dan tidak kalah dengan profesi-profesi lainnya.

Maju Terus Pendidikan Indonesia!

Advertisements

3 Responses to "Teacherpreneur di Sekolah Swasta"

SETUJUUU..dengan berbagi seseorang akan meningkat pengetahuannya, soft skillnya, termasuk pendapatannya hehehe..sesuai denga ajaran agama, ilmu akan bermanfaat kalau disebar, PAS bgt deh..

paling setuju lagi dengan saran tugas guru yg kurang/gak penting harus dibuang, karena sekarang ngerasanya banyak tugas guru yang malah menghambat proses pengembangan diri, hehehe..peace ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 11,784 hits

Pages

Twitter Updates

%d bloggers like this: