adi onggoboyo’s note

Archive for June 2012

Berikut ini rentet tweet sy beberapa waktu lalu ttg #KKM

(1) pendekatan kuantitatif dlm dunia pendidikan, pd level teknis di sekolah, mnrt sy adakalanya malah absurd #KKM
(2) misalnya adanya keharusan penetapan yg disebut Kriteria Ketuntasan Minimal atau biasa disingkat #KKM
(3) #KKM gampangny adlh batasan nilai angka minimal spy siswa dikatakan lulus dr suatu kompetensi dasar
(4) #KKM dr tiap kompetensi dasar (KD) akan dirata2kan utk jd KD suatu mata pelajaran..
(5) misalnya, #KKM mata pelajaran fisika di suatu sekolah A adalah 70, artiny klo siswa ga dpt nilai akhir min.70, disebut belum tuntas
(6) #KKM ini bisa beda2 tiap sekolah, ada juga malahan beda guru beda nilainya meski di sekolah yg sama
(7) #KKM didasarkan pd 3 variabel, 1.Kompleksitas konten di suatu KD
(8) ke-2, tingkat ketersediaan sarana dan prasarana yg mendukung suatu KD tersebut #KKM
(9) n yg ke-3, intake siswa, yg didasarkan pd acuan data nilai pd periode seblumnya ato nilai mereka sblmnya.. #KKM
(10) mslh lalu muncul di proses penentuan #KKM hingga sampe efek2nya, n mnrt sy jd nampak kacau balau
(11) utk tingkat kompleksitas konten KD, guru mesti membreakdown lg subkontennya, lalu memberi tingkatnya dlm rentang misalny 0-100
(12) kritik penting: penentuan 0-100 itu didasarkan pd apa? pd level teknis, sy lihat kawan2 guru pd akhirny pake jurus kira2 😀 #KKM
(13) ktersediaan sarpras pndukung, ini jg relatif yg ujung2nya d level teknis guru lg2 pake jurus kira2, trlebih di rumpun non eksak #KKM
(14) sdngkan intake siswa, jika ada 2 guru yg jd beda #KKM nya tp pd jenjang kelas yg sama di skolah yg sama, lalu…
(15) lalu apakah siswa yg diajarny sama persis org2ny di thn sblmnya, klo beda, data intake siswanya jd bias dong ya #KKM
(16) demikian jg utk penentuan #KKM di kelas 1, maka data sblmny kan bs dibilang ga ada, klo pake data siswa laen yg sdh naik kelas 2, hmm..
(17) pd endingny, sadar ato gak, #KKM ditentukan lebih pake feeling ato jurus kira2
(18) lalu #KKM itu diujiterapkan pd siswa.. filosofi yg dipakai adlh mastery learning, dimana semua siswa musti tuntas semua KD-nya
(19) semua siswa musti melewati batas #KKM yg berbeda2 di tiap sekolah, *tp kan KKM-nya dibuat pake feeling, jd gimana inih?*
(20) mastery learning menghasruskn siswa tuntas melewati batas #KKM -yg dibuat pake feeling- nah lho? klo ga lewat KKM, maka akan remedial
(21) remedial di level teknis ngabisin bnyk waktu -dimana guru sdh sngt padat kerjaannya- n blm tentu siswa jg rajin2an #KKM
(22) sadar ato ga, siswa spt dipaksa wajib lulus #KKM itu meski siswa udah sangat muak dgn pelajaran tsb..
(23) endingnya krn smua hrs lulus, guru jg dah lelah, tingkatnya dipermudah ato malah udah aja dillulusin dgn nilai minimum #KKM
(24) pd level tsb, qt dah ga bs ngeliat lg mana siswa yg beneran bagus dan mana yg gak, toh nilai akhirnya sama di raport mereka #KKM
(25) mslh lain muncul krn #KKM yg beda2 di sekolah yg beda, fisika 70 sekolah A dan fisika 80 skolah B bs saja scr kualitas sama
(26) apalagi klo penentuan #KKM lbh krn tekanan struktural, misal kepsek/yayasan mewajibkan mseti mamatok angka tertentu
(27) yg didasarkan pd asumsi bahwa makin gede #KKM diterapkan di suatu sekolah maka makin bagus mutu sekolah tersebut
(28) mnrt sy pandangan itu menyesatkan, tp bagi yg terjebak lihat patokan angka2 #KKM itu, mungkin bangga anakny dpt fisika 80 misalnya
(29) di raport siswa zaman penerapan ada #KKM tdk ada nilai merahnya, semua tinta hitam… lalu bgmn qt bs verified mana yg lbh baik?
(30) sy kira di zaman dulu lbh simpel modelny, klo merah ya udah ditulis merah aja di raport dan s/d batas tertentu masih bisa naik kls #KKM
(31) ato ga model yg dipake universitas aja, klo emang endingny gagal, ya DO/ga naek kelas yo wis #KKM
(32) jd ga musti naek kelas terus, drpd cuma nilai formalitas yg tertera di raport *buat sebagian siswa ya, ga semua* #KKM
(33) jika tdk siap dgn sistem yg ga naek kelas, ya jgn msk sekolah, ikutlah skolah yg lebih merdeka 🙂
(34) toh skrng bnyk komunitas belajar yg non-mainstream n justru lbh memerdekakan siswa
(35) ato qt bikin aja skolah yg naek kelas trus tp semua siswanya berkembang sesuai dgn bakat minat mrk, ga dikungkung pelajaran2 mbludak

end.

 

Advertisements

Keterbatasan

Posted on: June 9, 2012

*tulisan ini sy ambil dr arsip pribadi renungan2 saya di tahun 2005*

 

‘Ich musste das wissen auftheben aum zum glauben platz zu bekommen’

[Immanuel Kant]

Jika bermain menggunakan buah hitam, hampir selalu kakak saya menggunakan Pembukaan KaroKann yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan formasi Pertahanan Raja Sicilia. Ia dahulu sampai mencatatkan segala hasil pertandingan dalam sebuah buku khusus. Idolanya kala itu ialah GMW (Grand Master Wanita) Gaprindasvili yang cantik dan maut dalam permainan caturnya. Bedanya dengan saya sebagai sparing partnernya sejak kecil, saya malas mengikuti teori-teori yang ada, alamiah saja. Barangkali agak mirip dengan kealamiahan GM Cerdas Barus asal Medan.

Berbicara catur, sesungguhnya banyak hal yang dapat dipetik darinya. Terutama sekali ialah yang mengkonteks politik, karena bagi saya, prinsip-prinsip dalam permainan catur adalah suatu prinsip penting jika kemudian diterapkan dalam politik praktis yang nyata. Namun konteks kali ini saya tidak membincangkan itu. Ada hal lain yang juga sama menariknya.

Begini, jumlah kotak pada papan catur ialah 8×8 alias 64 kotak yang terdiri dari dua warna yang berbeda: hitam dan putih. Menarik, karena dengan 64 kotak tersebut, telah terjadi tidak terhingga partai pertandingan yang berbeda-beda. Meski ada kemiripan dalam beberapa permainan, namun tetap saja selalu saja tidak benar-benar sama.  Pelaku dalam catur totalnya 32 buah (16 putih dan 16 hitam), dengan hanya 6 fungsi yang berbeda (prajurit/bidak, benteng, kuda, gajah/peluncur, perdana menteri (ster), dan raja). Berarti kotak yang bakal digunakan tidak sampai penuh 64 kotak. Kondisi paling ekstrim ialah remis hanya tinggal raja saling berhadapan, yang berarti 62 kotak saja yang kosong, namun hal ini hampir tidak pernah terjadi (jarang sekali).

Catur sendiri, adalah permainan berfikir. Maka, keterbatasan dalam 64 kotak yang menghasilkan permainan tak hingga yang berbeda-beda adalah suatu keunikan. Keterbatasan dalam sekup kecil itu telah menghasilkan suatu pemikiran-pemikiran yang tak hingga banyaknya.

Sekarang, jika kita proyeksikan catur 64 kotak menjadi lebih luas dan variatif menjadi catur negara, lebih jauh: catur dunia, catur tata surya,…catur semesta raya. Maka tentu tidaklah dapat terbayang betapa luasnya seakan tanpa batas. Dan perihal seakan ketanpabatasan itu dengan demikian akan memunculkan peluang-peluang yang jauh lebih seakan tanpa batas dalam pemikiran-pemikiran manusia. Kata seakan menunjukkan bahwa masalahnya ialah, manusia tidak pernah mengetahui dimanakah batas catur semesta raya itu, sehingga karena sedemikian luasnya, dikatakan mendekati tak hingga.

Manusia sebagai insan berfikir, senantiasa mencari tahu akan hakikat semesta raya ini.  Namun karena diberikan suatu kebebasan berfikir seakan tanpa batas dalam keterbatasan yang jauh lebih kecil dari seakan tanpa batas namun juga masih seakan tanpa batas, tentunya peluang-peluang melakukan blunder pemikiran menjadi semakin besar. Dan seringkali manusia tidak sadari itu, persis seperti seorang pemain catur yang melakukan blunder langkah yang baru diakhir kemudian ia mengetahui bahwa langkahnya ialah langkah yang salah.

Akan tetapi juga, akal manusia yang merupakan bagian dari holistikasi tubuh-ruh kita, yang dimana berarti juga merupakan bagian kecil dari seakan ketanpabatasan semesta raya yang berbatas, maka itu berarti adalah bahwa adalah tidak mungkin, bagian dari suatu hal yang terbatas meski seakan tanpa batas, adalah mampu untuk dipaksakan dalam ketidakterbatasan. Kalau begitu, kebebasan berfikir tidak selamanya bagus, namun kita tetap harus melakukan proses berfikir bebas dalam suatu ‘keterbatasan’ yang dinamakan sunnatullah.  Karena fatamorgana berfikir seringkali terjadi, dan hal itu bisa terjadi karena perbedaan diantara manusianya: kecerdasan, wawasan, pemahaman, kondisi psikologis, dan sebagainya. Wah, kalau begitu, karena faktor pemikiran akal tidak bisa lepas dari bagian-bagian lain seperti disebut diatas yang juga memiliki sifat yang relatif sama dengan akal itu sendiri sebagai bagian dari keterbatasan, maka peluang berfikir bebas dengan kondisi keterkungkungan faktor-faktor lainnya menjadi lebih besar menuju ke arah absurditas.

Maka bermunculanlah kalangan yang tidak mau mengakui Tuhan. Maka menjamurlah kalangan yang tidak mempercayai adanya penciptaan semesta. Maka tampaklah keangkuhan-keangkuhan yang nyata dari cerdik cendekia dunia. Bisa jadi tidak itulah yang muncul, namun kehampaan-kehampaan dan dahaga spiritual berkepanjangan.

Prof. Paul Ehrenfest, seorang ilmuwan terkemuka yang disegani di Belanda, menggegerkan dunia di sekitar tahun 1930-an dengan aksi pembunuhan terhadap anaknya yang kemudian dilanjutkan dengan pembunuhan atas dirinya sendiri. Sahabatnya, Prof. Kohnstamm, membacakan salah satu suratnya, ‘Tidak ada yang lebih baik dari wetenschap. Tidak ada yang tersembunyi di belakang wetenschap. Wetenschap diatas segalanya’ Dan begitulah akhirannya, kehampaan lantaran penghambaan akal tanpa batas diatas segalanya berbuah kekonyolan mengakhiri hidup

‘Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia, dan membelakang dengan sikap sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya’ (QS:17:84-85)

Tetapi, keterbatasan bukan kemudian menjebak diri kita dalam kejumudan yang nyata. Karena berfikir adalah suatu hal yang diwajibkan agama. Maka taklid adalah hal yang sangat mesti dihindari. Credo quia absurdum (saya percaya sekalipun tidak masuk akal). Juga bukan untuk dipaksakan sebebas-bebasnya. Itulah mengapa filsuf kenamaan Jerman Immanuel Kant mengatakan yang intinya ialah setelah akal habis digunakan dengan berdarah-darah, maka disanalah kita harus menggunakan yang namanya iman.

‘ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena susungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-sekali kamu tidak akan sampai setinggi gunung’ (QS:17:36)

‘….Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran’ (QS:39:9)

Semua, ujung-ujungnya bermuara kepada konsep keberadaan Tuhan. Keberadaannya itulah yang menimbulkan perasaan bertuhan (iman kepada Tuhan) sebagai kekuatan ghaib segala-galanya, yang kemudian menimbulkan dorongan untuk menyembahnya (Resignation) setelah melalui serangkaian proses pencarian hakikat dalam keterbatasan akal manusia (Renunciation). Inilah yang sebetulnya dikonsepkan oleh pemikir besar Jerman, Johann Wolfgang Von Goethe, atau yang lebih dikenal dengan Goethe, hingga dia katakan kemudian,

‘Wenn Islam Gott ergeben heizt in Islam leben und sterben wir alle’

‘Jika Islam artinya menyerah diri kepada Tuhan, maka kita semua hidup dan mati dalam Islam’

Tidaklah mengherankan terjadi kehampaan jika tanpa dilandasi iman, dan betullah apa yang dikatakan Lowell Thomas;

‘One of curses of our modern civilization is that we have no time to meditate’

Expanding Mind Process

Dengan keterbatasan yang sedemikian rupa pada diri manusia, maka seharusnyalah berlaku paradoks universal terkait ilmu yang manusia miliki. Semakin canggih, maka merasa semakin kerdillah ia. Di sanalah terjadinya perbedaan antara orang-orang atheis dan theis. Siapapun akan tersungkur mengakui kebesaran-Nya. Tidaklah heran, Sir Isaac Newton, seorang fisikawan dan pemikir terbesar hingga kini yang telah merevolusikan paradigma umat manusia, berkata:

‘I do not know what I may appear to the world, but to myself I seem to have been only like a boy playing on the seashore, and diverting myself by now and then finding a smoother pebble or a prettier shell, whilst the great ocean of truth lay all undiscovered before me’

Maka Ari Ginanjar Agustian mengajak melakukan inner dan outer journey yang memasuki jagad luas paling kecil hingga paling besar tidak terhingga. Ia pun merumuskan konsep kekerdilannya itu setelah melalui mekanisme Zero Mind Process, yang intinya:

1/0 = Tidak hingga. Angka 1 adalah Tuhan. Angka 0 menunjukkan ketundukan total seorang manusia dengan menghilangkan segala hal yang menghambat menuju Tuhan. Sehingga, akan didapati suatu pancaran kekuatan yang luar biasa tak hingga.

Saya melihat, bahwa konsep itu merujuk kepada Tuhan yang dibandingkan dengan hamba yang sangat dhaif, sehingga ada kekuatan ilahiah yang didapatkan seorang hamba dengan ketundukannya itu. Akan tetapi, kalau begitu, konsep tersebut, dapat dikembangkan dengan perspektif yang saya sebut sebagai Expanding Mind Process, suatu proses dimana manusia mesti melakukan pengembaraan dan perjalanan berfikir yang meluas sehingga ia menemukan kondisi dirinya benar-benar dalam kedhaifan total.

Secara model sederhana matematis, jika seseorang (angka 1) melakukan proses berdarah-darah pada akal, atau berusaha memahami keluasan semesta, atau sedang menyelidiki suatu ilmu, dan dilakukan semakin kritis dan meluas, maka ia pada nantinya akan mendapati lautan ketidakterbatasan pengetahuan yang kemudian memunculkan dalam dirinya iman (kepercayaan kepada kekuasaan Tuhan). Iman inilah yang menyebabkannya melakukan penyerahan total kepada tuhannya dengan merasa sangat kerdil (angka 0). Jadi, 1/tak hingga = 0

‘Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama*). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun’ (QS:35:28)

*) yang dimaksud ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.

Kemudian, jika angka 1 (seseorang) diperbanyak angkanya menjadi sekumpulan manusia (misalnya jadi angka 1.000.000 orang), maka hasilnya tetap sama, angka 0{bilangan berapapun jika dibagi tak hingga akan menghasilkan angka nol). Relevankah dengan ayat berikut?

‘Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk mengatakan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya tidak mereka akan dapat membuatnya, biarpun sebagian dari mereka membantu sebagian (yang lain)” (QS:17:88)

Kalau kemudian terjadi tak hingga/tak hingga = tak hingga, hal itu tidaklah mungkin terjadi. Karena bagian pembilang adalah sebagai suatu postulat dalam dimensi keterbatasan manusia, sementara bagian penyebut adalah dalam dimensi kekuasaan Tuhan yang tanpa batas. Maka hasil tak hingga adalah tak terdefinisikan. Selalulah total keterbatasan dari segenap himpunan semesta dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan yang tanpa batas (Dia tidak berawal dan Dia juga tidak berakhir, maka demikian pulalah ihwal kekuasaannya), hasilnya tetap nol.

Wallahu’alam bishowab.


Blog Stats

  • 11,651 hits

Pages

Twitter Updates