adi onggoboyo’s note

Redefinisi Jarak Sosial Hall

Posted on: May 27, 2013

Nampaknya perlu pendefinisian baru di ruang virtual terkait jarak sosial Hall dalam pengertian jarak sosial konvensional. Hall mendefinisikan 4 kategori jarak berdasarkan kedekatan fisik antara orang2 yang berinteraksi (pakai acuan meter dari 0 meter): Jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik.

Untuk ruang virtual, menurut saya:
Gagasan (1) –> dalam ruang virtual, socmed khususnya, terdapat bias dan batasan yang blur-cair antara kategori jarak2 Hall tersebut.
Gagasan (2) –> dalam ruang virtual, kecenderungan interaksi dasarnya adalah jarak publik, kecuali dengan kontrol individual yang mentakdirkan untuk menyempitkan jarak publik kepada jarak yang lebih dekat.
Gagasan (3) –> dalam ruang virtual, tidak ada yang disebut dengan jarak seperti dalam pengertian ruang non-virtual, saya lebih percaya gagasan jarak ini di kualitatifkan dalam kekuatan makna-makna yang saling bertukar antara pihak-pihakyang berinteraksi melalui mekanisme komunikasi (tapi saya masih mikir lebih lanjut, anggap aja ini gagasan sementara).

Jadi, (A) Jelas bahwa akan mengacu pada jarak publik virtual untuk situasi dimana konten socmed di setting public, dan dapat diinteraksi-komunikasikan kepada orang lain. Aktor pemproduksi konten, dalam hal ini, berteriak dalam ‘kerumunan virtual’ yang seharusnya juga telah mempersiapkan dirinya pada situasi dipuji virtual atau sebaliknya, di caci maki virtual. Pada titik ini, socmed bisa menjadi wahana cross
struktur sosial sehingga menciptakan peluang-peluang mobilitas sosial vertikal.
(B) Ketegori hall utk jarak sosial menjadi bias, sebab kategori kenalan dengan masyarakat umum di ruang virtual, sulit untuk dibedakan. Saya buang kategori ketiga ini.
(C) Saya menyebutnya jarak pribadi virtual untuk situasi dimana aktor dibalik akun socmed telah memperketat dinamika konten yang bisa di share. Ia mensettingnya hanya untuk friends-nya saja. Masalahnya adalah, kultur masyarakat kita itu friendsnya buanyak yang belum tentu kenal, add-add aja jadi friends hehehehe. Nah, disituasi itu, maka santapan konten yang sedianya untuk jarak pribadi virtual orang2 yang memang sudah kita kenal dan jadi friends kita, mau tidak mau dapat disantap pula oleh sebagian orang baru yang telah kita seleksi. Disini biasanya teman2 akrab kita atau teman2 yang memang kita pernah kenal, dan tentunya sebagian lagi bs dibilang kenalan baru yg belum kenal=masyarakat umum 
(D) Saya menyebut jarak intim virtual apabila terdapat lanjutan intensitas komunikasi personal yang bermakna, yang mereduksi dari jarak publik virtual atau jarak pribadi virtual ke jarak intim virtual. Ini sangat kualitatif. Termasuk juga di dalamnya orang-orang yang sudah dikenal dalam dunia offline. Tetapi, jarak intim virtual ini tidak sama dengan jarak intim Hall dimana pihak-pihak yang berinteraksi saling bersentuhan (tiada jarak, e.g. berpegangan tangan). Jarak intim virtual ini lebih pada kualitas komunikasi virtual yang menyebabkan terjadinya ikatan emosional yang kuat antar pihak-pihak yang berkomunikasi. Remember, dalam dunia virtual, aspek WAHANA-nya VIRTUAL, namun aspek EMOSI-nya AKTUAL.

Suatu ketika saya pernah memblock seseorang di FB. Hmm… gini, tiba2 ada messege dateng ke FB:

“Hai,salam kenal dr fulan. Mas yg dpt beasiswa xxxxxxxx kan?” Setelah lihat informasi strukturalnya, ok, dari situ saya approve permohonan menjadi friend (berarti diseleksi dikasih kesempatan masuk jarak pribadi virtual, tapi inget lho, ini berarti orang ini masih masyarakat umum, belum kenal soalnya, jadi kita bisa anggap dia sedang berteriak dalam kerumunan virtual, ke arah saya.

Saat itu tidak saya balas apapun karena saya masih sibuk. 6 jam berikutnya ada messege lagi darinya: “Heloooo” nampaknya mencari perhatian. Ini nampaknya ingin ngajak ngobrol, bukan seperti email-emailan, tapi chatting. Tapi saya masih sibuk. Bukan berarti saya harus segera bisa diajak ngobrol setiap saat. Apalagi, ada prioritas temen-teman lain yang udah jelas
orangnya siapa, sementara yang ini belom kenal.

12 jam berikutnya, ada messege lagi darinya: “Cuek atau sombong ne org….” Halaaah ni orang.. Hmmm… yang tadinya saya udah mau bales itu messege kemarin, langsung jadi males. Kenal belom, minta perhatian lebih, endingnya malah judging hehehe. Padahal, approval jadi friends itu adalah tanda bahwa saya siap akan menindaklanjuti pembicaraan yang ditanyakan, tapi kan tidak mesti saat itu (walau memang bisa jadi sayanya bakal lupa karena ditelan kesibukan whahaha, tapi ini kan jedanya belom juga sehari). So, yang ada jadinya saya bales: ‘Polite please” hehe, lu kira hidup gw cuma buat fesbukan doang hehe. dan kemudian saya BLOCK hehehe… susah2 amat. Ini kan ruang virtual, gitu aja kok repot hehe 🙂 dan kemudian saya abaikan dan lupakan kejadian itu, kecuali utk contoh kasus bahasan ini 😀

Advertisements

1 Response to "Redefinisi Jarak Sosial Hall"

Jarak intim virtual ini lebih pada kualitas komunikasi virtual yang menyebabkan terjadinya ikatan emosional yang kuat antar pihak-pihak yang berkomunikasi. Remember, dalam dunia virtual, aspek WAHANA-nya VIRTUAL, namun aspek EMOSI-nya AKTUAL.

____

Aktualnya emosi ini, ada parameter ruang dan waktu nggak Mas Adi ? Maksud saya, saya sering bertemu, berteman, dan bekerja sama dengan personal- personal yang istilahnya ” Bersembunyi Dalam Terang”, maksudnya adalah : menggunakan stereotype dan persepsi subjek lain, untuk melindungi identitas diri. Kebanyakan mereka kapitalis, pebisnis, atau operator intelijen militer/ sipil.

Dalam ruang riil, bukan ruang virtual semacam socmed ya, manusia ( Homo sapiens) masih bisa menggunakan kemampuannya untuk membangun identitas “impostor”, demi bergabung dengan sebuah kelompok, yang memiliki sinyal atau nilai eksklusif, ya semacam strategi adaptasi lah. Di sini justru saya menemukan banyak celah dalam relasi pergaulan manusia, posisinya justru sangat dekat, di persepsi ( mind) kita masing- masing.

Persepsi personal dibentuk oleh nilai, nilai diinduksi oleh tekanan lingkungan, dan membentuk nilai kolektif komunal ( lingkungan), justru paling efektif lewat narasi. Narasi ini bisa berupa modus hiperbol dari sebuah fakta, atau murni narasi fiktif, yang dibangun dari asosiasi kosakata.

Nah, sampai sekarang pun, saya jarang sekali menemukan manusia yang independen, yang tak suka dengan drama, tak tertipu oleh stereotype, yang asalnya dari kalangan sipil, sebagian besar orang- orang yang independen justru dari militer. Kalaupun sipil yang berpegang pada sikap skeptisnya, dari yang selama ini saya kenal, adalah dari kapitalis tua, atau pebisnis riil yang merangkap intelijen buat perusahaannya sendiri.

Kopi darat lah Mas Adi, diskusi kita 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 11,784 hits

Pages

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: