adi onggoboyo’s note

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Nampaknya perlu pendefinisian baru di ruang virtual terkait jarak sosial Hall dalam pengertian jarak sosial konvensional. Hall mendefinisikan 4 kategori jarak berdasarkan kedekatan fisik antara orang2 yang berinteraksi (pakai acuan meter dari 0 meter): Jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik.

Untuk ruang virtual, menurut saya:
Gagasan (1) –> dalam ruang virtual, socmed khususnya, terdapat bias dan batasan yang blur-cair antara kategori jarak2 Hall tersebut.
Gagasan (2) –> dalam ruang virtual, kecenderungan interaksi dasarnya adalah jarak publik, kecuali dengan kontrol individual yang mentakdirkan untuk menyempitkan jarak publik kepada jarak yang lebih dekat.
Gagasan (3) –> dalam ruang virtual, tidak ada yang disebut dengan jarak seperti dalam pengertian ruang non-virtual, saya lebih percaya gagasan jarak ini di kualitatifkan dalam kekuatan makna-makna yang saling bertukar antara pihak-pihakyang berinteraksi melalui mekanisme komunikasi (tapi saya masih mikir lebih lanjut, anggap aja ini gagasan sementara).

Jadi, (A) Jelas bahwa akan mengacu pada jarak publik virtual untuk situasi dimana konten socmed di setting public, dan dapat diinteraksi-komunikasikan kepada orang lain. Aktor pemproduksi konten, dalam hal ini, berteriak dalam ‘kerumunan virtual’ yang seharusnya juga telah mempersiapkan dirinya pada situasi dipuji virtual atau sebaliknya, di caci maki virtual. Pada titik ini, socmed bisa menjadi wahana cross
struktur sosial sehingga menciptakan peluang-peluang mobilitas sosial vertikal.
(B) Ketegori hall utk jarak sosial menjadi bias, sebab kategori kenalan dengan masyarakat umum di ruang virtual, sulit untuk dibedakan. Saya buang kategori ketiga ini.
(C) Saya menyebutnya jarak pribadi virtual untuk situasi dimana aktor dibalik akun socmed telah memperketat dinamika konten yang bisa di share. Ia mensettingnya hanya untuk friends-nya saja. Masalahnya adalah, kultur masyarakat kita itu friendsnya buanyak yang belum tentu kenal, add-add aja jadi friends hehehehe. Nah, disituasi itu, maka santapan konten yang sedianya untuk jarak pribadi virtual orang2 yang memang sudah kita kenal dan jadi friends kita, mau tidak mau dapat disantap pula oleh sebagian orang baru yang telah kita seleksi. Disini biasanya teman2 akrab kita atau teman2 yang memang kita pernah kenal, dan tentunya sebagian lagi bs dibilang kenalan baru yg belum kenal=masyarakat umum 
(D) Saya menyebut jarak intim virtual apabila terdapat lanjutan intensitas komunikasi personal yang bermakna, yang mereduksi dari jarak publik virtual atau jarak pribadi virtual ke jarak intim virtual. Ini sangat kualitatif. Termasuk juga di dalamnya orang-orang yang sudah dikenal dalam dunia offline. Tetapi, jarak intim virtual ini tidak sama dengan jarak intim Hall dimana pihak-pihak yang berinteraksi saling bersentuhan (tiada jarak, e.g. berpegangan tangan). Jarak intim virtual ini lebih pada kualitas komunikasi virtual yang menyebabkan terjadinya ikatan emosional yang kuat antar pihak-pihak yang berkomunikasi. Remember, dalam dunia virtual, aspek WAHANA-nya VIRTUAL, namun aspek EMOSI-nya AKTUAL.

Suatu ketika saya pernah memblock seseorang di FB. Hmm… gini, tiba2 ada messege dateng ke FB:

“Hai,salam kenal dr fulan. Mas yg dpt beasiswa xxxxxxxx kan?” Setelah lihat informasi strukturalnya, ok, dari situ saya approve permohonan menjadi friend (berarti diseleksi dikasih kesempatan masuk jarak pribadi virtual, tapi inget lho, ini berarti orang ini masih masyarakat umum, belum kenal soalnya, jadi kita bisa anggap dia sedang berteriak dalam kerumunan virtual, ke arah saya.

Saat itu tidak saya balas apapun karena saya masih sibuk. 6 jam berikutnya ada messege lagi darinya: “Heloooo” nampaknya mencari perhatian. Ini nampaknya ingin ngajak ngobrol, bukan seperti email-emailan, tapi chatting. Tapi saya masih sibuk. Bukan berarti saya harus segera bisa diajak ngobrol setiap saat. Apalagi, ada prioritas temen-teman lain yang udah jelas
orangnya siapa, sementara yang ini belom kenal.

12 jam berikutnya, ada messege lagi darinya: “Cuek atau sombong ne org….” Halaaah ni orang.. Hmmm… yang tadinya saya udah mau bales itu messege kemarin, langsung jadi males. Kenal belom, minta perhatian lebih, endingnya malah judging hehehe. Padahal, approval jadi friends itu adalah tanda bahwa saya siap akan menindaklanjuti pembicaraan yang ditanyakan, tapi kan tidak mesti saat itu (walau memang bisa jadi sayanya bakal lupa karena ditelan kesibukan whahaha, tapi ini kan jedanya belom juga sehari). So, yang ada jadinya saya bales: ‘Polite please” hehe, lu kira hidup gw cuma buat fesbukan doang hehe. dan kemudian saya BLOCK hehehe… susah2 amat. Ini kan ruang virtual, gitu aja kok repot hehe 🙂 dan kemudian saya abaikan dan lupakan kejadian itu, kecuali utk contoh kasus bahasan ini 😀

Advertisements

Berikut ini rentet tweet sy beberapa waktu lalu ttg #KKM

(1) pendekatan kuantitatif dlm dunia pendidikan, pd level teknis di sekolah, mnrt sy adakalanya malah absurd #KKM
(2) misalnya adanya keharusan penetapan yg disebut Kriteria Ketuntasan Minimal atau biasa disingkat #KKM
(3) #KKM gampangny adlh batasan nilai angka minimal spy siswa dikatakan lulus dr suatu kompetensi dasar
(4) #KKM dr tiap kompetensi dasar (KD) akan dirata2kan utk jd KD suatu mata pelajaran..
(5) misalnya, #KKM mata pelajaran fisika di suatu sekolah A adalah 70, artiny klo siswa ga dpt nilai akhir min.70, disebut belum tuntas
(6) #KKM ini bisa beda2 tiap sekolah, ada juga malahan beda guru beda nilainya meski di sekolah yg sama
(7) #KKM didasarkan pd 3 variabel, 1.Kompleksitas konten di suatu KD
(8) ke-2, tingkat ketersediaan sarana dan prasarana yg mendukung suatu KD tersebut #KKM
(9) n yg ke-3, intake siswa, yg didasarkan pd acuan data nilai pd periode seblumnya ato nilai mereka sblmnya.. #KKM
(10) mslh lalu muncul di proses penentuan #KKM hingga sampe efek2nya, n mnrt sy jd nampak kacau balau
(11) utk tingkat kompleksitas konten KD, guru mesti membreakdown lg subkontennya, lalu memberi tingkatnya dlm rentang misalny 0-100
(12) kritik penting: penentuan 0-100 itu didasarkan pd apa? pd level teknis, sy lihat kawan2 guru pd akhirny pake jurus kira2 😀 #KKM
(13) ktersediaan sarpras pndukung, ini jg relatif yg ujung2nya d level teknis guru lg2 pake jurus kira2, trlebih di rumpun non eksak #KKM
(14) sdngkan intake siswa, jika ada 2 guru yg jd beda #KKM nya tp pd jenjang kelas yg sama di skolah yg sama, lalu…
(15) lalu apakah siswa yg diajarny sama persis org2ny di thn sblmnya, klo beda, data intake siswanya jd bias dong ya #KKM
(16) demikian jg utk penentuan #KKM di kelas 1, maka data sblmny kan bs dibilang ga ada, klo pake data siswa laen yg sdh naik kelas 2, hmm..
(17) pd endingny, sadar ato gak, #KKM ditentukan lebih pake feeling ato jurus kira2
(18) lalu #KKM itu diujiterapkan pd siswa.. filosofi yg dipakai adlh mastery learning, dimana semua siswa musti tuntas semua KD-nya
(19) semua siswa musti melewati batas #KKM yg berbeda2 di tiap sekolah, *tp kan KKM-nya dibuat pake feeling, jd gimana inih?*
(20) mastery learning menghasruskn siswa tuntas melewati batas #KKM -yg dibuat pake feeling- nah lho? klo ga lewat KKM, maka akan remedial
(21) remedial di level teknis ngabisin bnyk waktu -dimana guru sdh sngt padat kerjaannya- n blm tentu siswa jg rajin2an #KKM
(22) sadar ato ga, siswa spt dipaksa wajib lulus #KKM itu meski siswa udah sangat muak dgn pelajaran tsb..
(23) endingnya krn smua hrs lulus, guru jg dah lelah, tingkatnya dipermudah ato malah udah aja dillulusin dgn nilai minimum #KKM
(24) pd level tsb, qt dah ga bs ngeliat lg mana siswa yg beneran bagus dan mana yg gak, toh nilai akhirnya sama di raport mereka #KKM
(25) mslh lain muncul krn #KKM yg beda2 di sekolah yg beda, fisika 70 sekolah A dan fisika 80 skolah B bs saja scr kualitas sama
(26) apalagi klo penentuan #KKM lbh krn tekanan struktural, misal kepsek/yayasan mewajibkan mseti mamatok angka tertentu
(27) yg didasarkan pd asumsi bahwa makin gede #KKM diterapkan di suatu sekolah maka makin bagus mutu sekolah tersebut
(28) mnrt sy pandangan itu menyesatkan, tp bagi yg terjebak lihat patokan angka2 #KKM itu, mungkin bangga anakny dpt fisika 80 misalnya
(29) di raport siswa zaman penerapan ada #KKM tdk ada nilai merahnya, semua tinta hitam… lalu bgmn qt bs verified mana yg lbh baik?
(30) sy kira di zaman dulu lbh simpel modelny, klo merah ya udah ditulis merah aja di raport dan s/d batas tertentu masih bisa naik kls #KKM
(31) ato ga model yg dipake universitas aja, klo emang endingny gagal, ya DO/ga naek kelas yo wis #KKM
(32) jd ga musti naek kelas terus, drpd cuma nilai formalitas yg tertera di raport *buat sebagian siswa ya, ga semua* #KKM
(33) jika tdk siap dgn sistem yg ga naek kelas, ya jgn msk sekolah, ikutlah skolah yg lebih merdeka 🙂
(34) toh skrng bnyk komunitas belajar yg non-mainstream n justru lbh memerdekakan siswa
(35) ato qt bikin aja skolah yg naek kelas trus tp semua siswanya berkembang sesuai dgn bakat minat mrk, ga dikungkung pelajaran2 mbludak

end.

 

Keterbatasan

Posted on: June 9, 2012

*tulisan ini sy ambil dr arsip pribadi renungan2 saya di tahun 2005*

 

‘Ich musste das wissen auftheben aum zum glauben platz zu bekommen’

[Immanuel Kant]

Jika bermain menggunakan buah hitam, hampir selalu kakak saya menggunakan Pembukaan KaroKann yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan formasi Pertahanan Raja Sicilia. Ia dahulu sampai mencatatkan segala hasil pertandingan dalam sebuah buku khusus. Idolanya kala itu ialah GMW (Grand Master Wanita) Gaprindasvili yang cantik dan maut dalam permainan caturnya. Bedanya dengan saya sebagai sparing partnernya sejak kecil, saya malas mengikuti teori-teori yang ada, alamiah saja. Barangkali agak mirip dengan kealamiahan GM Cerdas Barus asal Medan.

Berbicara catur, sesungguhnya banyak hal yang dapat dipetik darinya. Terutama sekali ialah yang mengkonteks politik, karena bagi saya, prinsip-prinsip dalam permainan catur adalah suatu prinsip penting jika kemudian diterapkan dalam politik praktis yang nyata. Namun konteks kali ini saya tidak membincangkan itu. Ada hal lain yang juga sama menariknya.

Begini, jumlah kotak pada papan catur ialah 8×8 alias 64 kotak yang terdiri dari dua warna yang berbeda: hitam dan putih. Menarik, karena dengan 64 kotak tersebut, telah terjadi tidak terhingga partai pertandingan yang berbeda-beda. Meski ada kemiripan dalam beberapa permainan, namun tetap saja selalu saja tidak benar-benar sama.  Pelaku dalam catur totalnya 32 buah (16 putih dan 16 hitam), dengan hanya 6 fungsi yang berbeda (prajurit/bidak, benteng, kuda, gajah/peluncur, perdana menteri (ster), dan raja). Berarti kotak yang bakal digunakan tidak sampai penuh 64 kotak. Kondisi paling ekstrim ialah remis hanya tinggal raja saling berhadapan, yang berarti 62 kotak saja yang kosong, namun hal ini hampir tidak pernah terjadi (jarang sekali).

Catur sendiri, adalah permainan berfikir. Maka, keterbatasan dalam 64 kotak yang menghasilkan permainan tak hingga yang berbeda-beda adalah suatu keunikan. Keterbatasan dalam sekup kecil itu telah menghasilkan suatu pemikiran-pemikiran yang tak hingga banyaknya.

Sekarang, jika kita proyeksikan catur 64 kotak menjadi lebih luas dan variatif menjadi catur negara, lebih jauh: catur dunia, catur tata surya,…catur semesta raya. Maka tentu tidaklah dapat terbayang betapa luasnya seakan tanpa batas. Dan perihal seakan ketanpabatasan itu dengan demikian akan memunculkan peluang-peluang yang jauh lebih seakan tanpa batas dalam pemikiran-pemikiran manusia. Kata seakan menunjukkan bahwa masalahnya ialah, manusia tidak pernah mengetahui dimanakah batas catur semesta raya itu, sehingga karena sedemikian luasnya, dikatakan mendekati tak hingga.

Manusia sebagai insan berfikir, senantiasa mencari tahu akan hakikat semesta raya ini.  Namun karena diberikan suatu kebebasan berfikir seakan tanpa batas dalam keterbatasan yang jauh lebih kecil dari seakan tanpa batas namun juga masih seakan tanpa batas, tentunya peluang-peluang melakukan blunder pemikiran menjadi semakin besar. Dan seringkali manusia tidak sadari itu, persis seperti seorang pemain catur yang melakukan blunder langkah yang baru diakhir kemudian ia mengetahui bahwa langkahnya ialah langkah yang salah.

Akan tetapi juga, akal manusia yang merupakan bagian dari holistikasi tubuh-ruh kita, yang dimana berarti juga merupakan bagian kecil dari seakan ketanpabatasan semesta raya yang berbatas, maka itu berarti adalah bahwa adalah tidak mungkin, bagian dari suatu hal yang terbatas meski seakan tanpa batas, adalah mampu untuk dipaksakan dalam ketidakterbatasan. Kalau begitu, kebebasan berfikir tidak selamanya bagus, namun kita tetap harus melakukan proses berfikir bebas dalam suatu ‘keterbatasan’ yang dinamakan sunnatullah.  Karena fatamorgana berfikir seringkali terjadi, dan hal itu bisa terjadi karena perbedaan diantara manusianya: kecerdasan, wawasan, pemahaman, kondisi psikologis, dan sebagainya. Wah, kalau begitu, karena faktor pemikiran akal tidak bisa lepas dari bagian-bagian lain seperti disebut diatas yang juga memiliki sifat yang relatif sama dengan akal itu sendiri sebagai bagian dari keterbatasan, maka peluang berfikir bebas dengan kondisi keterkungkungan faktor-faktor lainnya menjadi lebih besar menuju ke arah absurditas.

Maka bermunculanlah kalangan yang tidak mau mengakui Tuhan. Maka menjamurlah kalangan yang tidak mempercayai adanya penciptaan semesta. Maka tampaklah keangkuhan-keangkuhan yang nyata dari cerdik cendekia dunia. Bisa jadi tidak itulah yang muncul, namun kehampaan-kehampaan dan dahaga spiritual berkepanjangan.

Prof. Paul Ehrenfest, seorang ilmuwan terkemuka yang disegani di Belanda, menggegerkan dunia di sekitar tahun 1930-an dengan aksi pembunuhan terhadap anaknya yang kemudian dilanjutkan dengan pembunuhan atas dirinya sendiri. Sahabatnya, Prof. Kohnstamm, membacakan salah satu suratnya, ‘Tidak ada yang lebih baik dari wetenschap. Tidak ada yang tersembunyi di belakang wetenschap. Wetenschap diatas segalanya’ Dan begitulah akhirannya, kehampaan lantaran penghambaan akal tanpa batas diatas segalanya berbuah kekonyolan mengakhiri hidup

‘Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia, dan membelakang dengan sikap sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya’ (QS:17:84-85)

Tetapi, keterbatasan bukan kemudian menjebak diri kita dalam kejumudan yang nyata. Karena berfikir adalah suatu hal yang diwajibkan agama. Maka taklid adalah hal yang sangat mesti dihindari. Credo quia absurdum (saya percaya sekalipun tidak masuk akal). Juga bukan untuk dipaksakan sebebas-bebasnya. Itulah mengapa filsuf kenamaan Jerman Immanuel Kant mengatakan yang intinya ialah setelah akal habis digunakan dengan berdarah-darah, maka disanalah kita harus menggunakan yang namanya iman.

‘ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena susungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-sekali kamu tidak akan sampai setinggi gunung’ (QS:17:36)

‘….Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran’ (QS:39:9)

Semua, ujung-ujungnya bermuara kepada konsep keberadaan Tuhan. Keberadaannya itulah yang menimbulkan perasaan bertuhan (iman kepada Tuhan) sebagai kekuatan ghaib segala-galanya, yang kemudian menimbulkan dorongan untuk menyembahnya (Resignation) setelah melalui serangkaian proses pencarian hakikat dalam keterbatasan akal manusia (Renunciation). Inilah yang sebetulnya dikonsepkan oleh pemikir besar Jerman, Johann Wolfgang Von Goethe, atau yang lebih dikenal dengan Goethe, hingga dia katakan kemudian,

‘Wenn Islam Gott ergeben heizt in Islam leben und sterben wir alle’

‘Jika Islam artinya menyerah diri kepada Tuhan, maka kita semua hidup dan mati dalam Islam’

Tidaklah mengherankan terjadi kehampaan jika tanpa dilandasi iman, dan betullah apa yang dikatakan Lowell Thomas;

‘One of curses of our modern civilization is that we have no time to meditate’

Expanding Mind Process

Dengan keterbatasan yang sedemikian rupa pada diri manusia, maka seharusnyalah berlaku paradoks universal terkait ilmu yang manusia miliki. Semakin canggih, maka merasa semakin kerdillah ia. Di sanalah terjadinya perbedaan antara orang-orang atheis dan theis. Siapapun akan tersungkur mengakui kebesaran-Nya. Tidaklah heran, Sir Isaac Newton, seorang fisikawan dan pemikir terbesar hingga kini yang telah merevolusikan paradigma umat manusia, berkata:

‘I do not know what I may appear to the world, but to myself I seem to have been only like a boy playing on the seashore, and diverting myself by now and then finding a smoother pebble or a prettier shell, whilst the great ocean of truth lay all undiscovered before me’

Maka Ari Ginanjar Agustian mengajak melakukan inner dan outer journey yang memasuki jagad luas paling kecil hingga paling besar tidak terhingga. Ia pun merumuskan konsep kekerdilannya itu setelah melalui mekanisme Zero Mind Process, yang intinya:

1/0 = Tidak hingga. Angka 1 adalah Tuhan. Angka 0 menunjukkan ketundukan total seorang manusia dengan menghilangkan segala hal yang menghambat menuju Tuhan. Sehingga, akan didapati suatu pancaran kekuatan yang luar biasa tak hingga.

Saya melihat, bahwa konsep itu merujuk kepada Tuhan yang dibandingkan dengan hamba yang sangat dhaif, sehingga ada kekuatan ilahiah yang didapatkan seorang hamba dengan ketundukannya itu. Akan tetapi, kalau begitu, konsep tersebut, dapat dikembangkan dengan perspektif yang saya sebut sebagai Expanding Mind Process, suatu proses dimana manusia mesti melakukan pengembaraan dan perjalanan berfikir yang meluas sehingga ia menemukan kondisi dirinya benar-benar dalam kedhaifan total.

Secara model sederhana matematis, jika seseorang (angka 1) melakukan proses berdarah-darah pada akal, atau berusaha memahami keluasan semesta, atau sedang menyelidiki suatu ilmu, dan dilakukan semakin kritis dan meluas, maka ia pada nantinya akan mendapati lautan ketidakterbatasan pengetahuan yang kemudian memunculkan dalam dirinya iman (kepercayaan kepada kekuasaan Tuhan). Iman inilah yang menyebabkannya melakukan penyerahan total kepada tuhannya dengan merasa sangat kerdil (angka 0). Jadi, 1/tak hingga = 0

‘Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama*). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun’ (QS:35:28)

*) yang dimaksud ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.

Kemudian, jika angka 1 (seseorang) diperbanyak angkanya menjadi sekumpulan manusia (misalnya jadi angka 1.000.000 orang), maka hasilnya tetap sama, angka 0{bilangan berapapun jika dibagi tak hingga akan menghasilkan angka nol). Relevankah dengan ayat berikut?

‘Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk mengatakan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya tidak mereka akan dapat membuatnya, biarpun sebagian dari mereka membantu sebagian (yang lain)” (QS:17:88)

Kalau kemudian terjadi tak hingga/tak hingga = tak hingga, hal itu tidaklah mungkin terjadi. Karena bagian pembilang adalah sebagai suatu postulat dalam dimensi keterbatasan manusia, sementara bagian penyebut adalah dalam dimensi kekuasaan Tuhan yang tanpa batas. Maka hasil tak hingga adalah tak terdefinisikan. Selalulah total keterbatasan dari segenap himpunan semesta dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan yang tanpa batas (Dia tidak berawal dan Dia juga tidak berakhir, maka demikian pulalah ihwal kekuasaannya), hasilnya tetap nol.

Wallahu’alam bishowab.

Setelah berkomunikasi personal panjang lebar via messej FB dengan Nurochman bin Tjaslan, salah satu pengusul program Kewirausahaan Bersama yang diajukan untuk BSM-Care. Pada saat komunikasi tersebut, semua status di FB dan twitter saya yang dianggap menuduh curang tim mereka, saya hapus semuanya untuk menetralisir suasana terlebih dahulu. Akan tetapi, saya dan tim merasa tidak menemukan penjelasan dan klarifikasi yang memadai dari beliau. Meski pak Nurochman sudah bilang sumpah Demi Allah tidak curang dan sama sekali tidak mengetahui perihal keanehan yang kami tanyakan, tapi yang kami inginkan itu *sekali lagi* adalah ajakan bermain fair, dengan catatan, kami ingin meminta klarifikasi teknis dari keanehan yg tim kami lihat. Tadinya, jika tim mereka bisa memberikan klarifikasi yang jelas sehingga semua clear, maka kami siap lanjutkan kompetisi dengan fair. Namun kondisinya nampaknya tidak kondusif, ya sudah, lebih baik saya -mewakili tim- menuliskan sharing ini di blog. (oia, setidaknya 2 tim lain di top 10 sementara BSM-Care juag mempertanyakan hal yang sama dengan tim kami).

Terkait penggunaan twitter yang berindikasi tidak fair (lihat selengkapnya di Gak Fair Ya?Hehe) mereka menjelaskan bahwa mereka memang baru mengenal twitter jadi intinya masih belum mengerti cara-cara kerjanya. Newbie istilahnya, jadi menurut kami mereka masih dalam suasana euforia ada mainan baru, belum tahu etika-etikanya. Tapi terserah penilaian teman2 semua apakah alasan itu dapat diterima atau tidak.

Mencermati indikasi kecurangan ini juga menarik buat saya sebagai peneliti sosial 🙂 tapi sy tidak sedang ingin membahas dr sudut pandang sosiologis, kali ini sy ingin memperlihatkan indikasi-indikasi yang kami ingin minta klarifikasinya namun tidak dijawab 🙂 Memang benar, semua berawal dari pengamatan kami terhadap cara main mereka di twitter yang terindikasi tidak fair. Lalu tim kami jadi beralih mencermati pergerakan like FB-nya. Berikut ini asumsi analisis awal kami yang kami dasarkan pada pengalaman kami dalam berinteraksi di social media.
– Jika kita cuma memposting ajakan vote di status kita sendiri, hanya ada segelintir orang yang akan tergerak untuk vote sekalipun friends-nya itu teman2 dekat kita. Contoh kasus, saya punya sekitar 2200-an friends, di Cipta Media Bersama saya coba seperti ini ditambah tulis status di wall sekitar seratusan orang, lalu saya diamkan, hasilnya cuma dapat 141 like FB 😀
– Jika kita memposting ke tiap2 orang di jejaring kira, secara statistik yg kami amati, setidaknya 50-an % dari jejaring akan tergerak mem-vote utk LIKE (paling banyak), 50% ini saja sudah bagus 🙂 Adapun tweet, Jempol, dan komen akan relatif lebih sedikit lagi (2 yg terakhir kecenderungannya agak malas). Dari sini bakal ada kecenderungan statistik yg urutan terbanyak dr FB, twitter, jempol, komen.
– Nah, sekarang tinggal hitung2an jumlah jejaring kan. Kami melihat list friends tiga orang pengusul Kewirausahaan Bersama sampai saat tulisan ini ditulis: Pak Nurochman hanya 473, pak dartono cuma 123, pak sumardi 247. Lalu link grup koperasi pulsa di Facebook cuma 984 orang. Adapun peluang friends kita sendiri menyebarluaskan lagi secara spesifik satu2 ke wall jejaringnya pun sangatlah kecil sekali sekalipun kita telah meminta.
– Tiba2 (speerti yg sy tulis di blog kmrn) dalm waktu sekitar 6 jam (dari sekitar jam 12 malam s/d jam 6 pagi) bbrp hari yang lalu, like FB mereka naik jadi 1600 orang. Artinya setidaknya mereka membutuhkan posting ke wall orang lain sebanyak sekitar 3200 orang dalam 6 jam. Gabungan friends diantara mereka bertiga sbg pengusul program + grup fesbuknya jelas masih jauh dari angka 3200. Pertanyaannya: adakah di saat tengah malam hingga pagi itu yang mengerjakan sebanyak itu diantara tim mereka? Jika ada, that’s ok. Tapi jika tidak, penjelasannya bagaimana? Sementara pengalaman statistik kasar kami, orang yang membuka FB di dini hari relatif jarang.
– Lalu pak Eko Budhi Suprasetiawan pengusul Pelatihan ekonomi syariah (di BSM Care juga) kirim pesan via FB kok pada bisa dapat like FB sampai 4000-an?? Beliau sendiri friendsnya sekitar 1600, belum ditambah tim inti lainnya. Beliau bilang sudah mengerahkan semua pasukannya tiap hari bekerja keras namun belum mencapai hasil maksimal. Demikian juga bung Yusvi (IT untuk anak nelayan) friendsnya seribuan masih belum bisa beranjak banyak.
– Pak Eko Budhi terkesiap *mungkin* karena kompetisi hibah Cipta Media Bersama dari Ford Foundation saja, yang 5 vote teratas, like FB tertingginya hanya di kisaran 4ribuan (CMIIW). Padahal itu diikuti oleh komunitas2 yang bertahun2 sudah mapan. Seperti FLP yg punya anggota grup di FB sebanyak 11-an ribu orang, hanya mampu mengerahkan utk like FB didekat 4000 dan 2000 vote.
– Akhirnya pak Ardian Febri (@kafey) mencoba mencari tahu ada apa gerangan sebenarnya? Kok anomalinya terlalu banyak?? Ditambah lagi perbandingan like FB dan tweet dengan jempol dan komen disaat posisi like tim mereka skitar 6100-an, nampak jelas anomalinya dibandingkan kawan2 pengusul lainnya (baca lagi detailnya di Fair Gak Ya? Hehe). Nah,pak febri lalu menemukan indikasi awal adanya penggunaan autoscript pada FB diantara jejaring bapak atau tim. Pak febri lalu mengcapture contoh2nya. Meski begitu, tetap ada peluang memang tidak pakai autoscript sama sekali. Inilah yang mendorong kami untuk meminta konfirmasi dan klarifikasi lebih lanjut dari mereka. Kalau mereka bisa menjelaskan, ya sudah semua clear. Ternyata kan tidak! BT donk lama-lama kalau kerja manual dan fair tim kami harus berhadapan dengan mesin, effort yg mesti kami keluarkan jd sangat-sangat besar sementara mereka tinggal menikmati saja (di awal mereka sudah menuliskan satu persatu ke wall friends-nya walo klo diliat dari wall FB mereka, cuma pak Nurochman saja yang rajin, berikutnya tim mereka terindikasi curang)
– Lalu pak febri di unfriend oleh pak Nurochman dan di block oleh Pak Dartono Jhon FB-nya, bikin menambah suuzhon kami hehe 🙂 lalu kami jadi menduga-duga, jika penjelasan klarifikasi dari mereka tidak jelas, barangkali memang  pak nurochman yang sudah bersumpah demi allah sudah sudah benar dan jujur (karena ketidaktahuannya beliau dalam dunia socmed). Akan tetapi tidak menutup kemungkinan ada diantara jejaring beliau yang melakukan kecurangan tanpa sepengetahuan beliau.  Tapi kalau penjelasannya masuk akal dan fair, mari kita lanjutkan kompetisi dan masalah ini kita anggap clear.

Dari situ lalu kami memancing untuk mereka melakukan pergerakan. Kemarin malam, saya dan pak Ardian Febri lembur di kantor untuk melihat ulang kemungkinan tidak fair-nya. Pak Febri mulai kirim ajakan promosi vote dengan mendatangi tiap2 wall di jejaring friendsnya sebanyak ratusan orang, sehingga menyebabkan orang mulai nge-like FB, yang kemudian menggeser kembali posisi #gurudigital ke nomor 1 (lihat gambar dibawah). Saya akan share semua gambar pergerakan dimulai dari Pukul 19:19 WIB 26 September 2011 pada saat tim kami kembali ke posisi pertama klasemen sementara:

Jam 19:19 WIB Download

Jam 19:27 WIB Download

Jam 19:50 WIB Download

Jam 19:57 WIB Download

Jam 20:14 WIB Download

Jam 22:24 WIB Download

Jam 22:32 WIB Download

Jam 22:35 WIB Download

Jam 22:42 WIB Download

Jam 22:50 WIB Download

Keseluruhan data pergerakan diatas, tolong disimak pergerakan Like FB dan Jempol, sebab data diatas mengindikasikan bentuk kecurangan lain selain yang terendus pada twitter, FB, dan sekarang bisa jadi Jempol vote 😀 lengkap sudah :p  Nah, pada saat terjadinya pergerakan itulah, disaat yang sama di halaman wall FB-nya pak Dartono Jhon, salah seorang penggagasnya, terjadi keanehan-keanehan: tiba-tiba muncul status pak nurochman untuk ajakan vote di setiap status komen pak dartono. Gambar dibawah ini diambil di jam 19:37

untuk melihat lebih lengkap kemunculan semua status tiba2 dalam waktu yang serentak itu:

Kemunculan jam 19:44 Download

Kemunculan jam 19:49 Download

Kemunculan jam 19:53 Download

 

Kemunculan jam 19:53 ini aneh, sebab tiba-tiba semua status pak Nurochman menghilang secara bersamaan 😀 dan bersamaan dengan itu, pergerakan kenaikan jumlah like FB di klasemen pada tim mereka juga berhenti. Lalu kemudian tiba-tiba naiklah bvote jempol tanpa diiringi kenaikan FB atau tweet, agak kurang lazim dalam melihat keseluruhan pergerakan semua peserta yang di top 10 (ntar saya bahas dibawah). Wah?? jadi tanda tanya… kami lalu kirim messej ke pak nurochman agar jangan main curang, tapi jawabannya tetap tidak memuaskan. Karena sudah malam, saya dan pak febri pulang. Di rumah, cek internet, ternyata sedang terjadi pergerakan lagi. Seperti baisa, tiba2 di wall FB pak Dartono muncul lagi komen2 ajakan dari Pak Nurochman, mosok iya pak Nurochman iseng banget nulis lagi ditempat yang sama lagi secara bersamaan pula?? lalu ngapus lagi?? what’s going on?

Kemunculan jam 22:49 Download

Kemunculan jam 22:51 Download  –> komennya tiba-tiba berkurang

Kemunculan jam 22:52 Download –> komen pak Nurochman hilang semua

Menariknya, di saat2 kemunculan komen pak Nurochman itu, tidak ada history yang bisa menunjukkan bahwa pak Nurochman telah menuliskan itu di wall FB-nya pak Nurochman. Okelah misalnya pak Nurochman yang menuliskan semuanya lalu mendelete semuanya, sbegitu cepatkah? menulis di tiap status pak Dartono lalu menghapusnya lalu menghapus jejak di wall-nya pak Nurochman?? Mohon klarifikasi..

Karena tim ini jempol votenya juga tiba-tiba naek, kami juga jadi bertanya-tanya, apakah mereka melakukannya dengan fair? Baca kembali postingan di blog saya sebelumnya, saya hadirkan kembali gambar nya pada saat posisi tanggal 24 September 2011 pukul 8:29 WIB perhatikan jumlah jempol dan komen relatif terhadap FB dan tweet.

pada situasi gambar diatas, perbandingan jumlah vote jempol dan komen relatif terhadap like FB dan twitter SEPERTI tidak rasional relatif *lagi* terhadap perbandingan yang sama pada tim lain yang di top 10. Kalau statistiknya cukup benar, maka kejompangan yang ekstim itu karena prosesnya tidak dikerjakan dengan alamiah alias berpotensi, berindikasi curang. Mari kita bandingkan percepatan gerak maju vote jempolnya pada keesokan harinya tanggal 25 September pukul 14:20 WIB yuk kita lihat gambarnya:

Tiba-tiba muncul 110 vote jempol dalam relasi perbandingan dengan tambahan 300-an like FB, lalu kemudian jumlah vote itu bergerak terus secara perlahan tapi pasti. Berikut ini data lengkapnya:

Jempol jam 16:55 WIB 25 Sept Download

Jempol jam 20:04 WIB 25 Sept Download

lalu ikuti terus file-filenya di tanggal 26 September 2011 yang sudah saya sharing di bagian sebelumnya. Hingga pada tanggal 26 September 2011 pukul 22:50 WIB vote jempolnya sudah 257. Fantastis! 🙂

Perhatikan bahwa di sharing file saya yang tanggal 26 September 2011 dari jam 19-an sampai 22-an, ada beberapa situsi (silahkan dianalisis) pergerakan dimana saat like FB-nya tidak meningkat, tapi vote jempolnya meningkat. Kalau dari pergerakan alamiah yang kami amati diantara peserta top 10, kenaikan vote jempol biasanya seiring dengan kenaikan like FB, dan tidak pernah melebihi like FB (sialnya saya tidak mengcapture data-datanya yang lalu:D ). Rasionalisasinya begini: pada saat orang di ajak untuk memvote via FB, lalu orang tersebut membuka laman BSM-Care, mayoritas mereka hanya mengklik like meskipun dalam ajakan sudah diminta untuk mengklik semuanya + komentar. Kalau mereka tidak vote jempol, lalu kita minta lagi suatu ketika untuk balik lagi dan klik vote jempol, meski kelihatannya sederhana, tapi yang saya amati, mereka belum tentu mau 😀 Kalau metode yang kami pakai agar orang tergerak mengklik vote jempol dengan mengutak atik bahasa komunikasi di pesan ajakan untuk vote-nya dan hal itu cukup bekerja. Namun yang saya lihat, model bahasa komunikasi yang dipakai di status pak Nurochman relatif tidak berubah. Kemudian, yang tadi itu, pada saat like FB tidak berjalan, like jempol tau-tau jalan, sementara twitternya juag tidak jalan, komennya juga relatif tetap 😀 nah lho?? Tolong diklarifikasi siapa tahu memang saya tidak tahu metodenya jadi bertanya2 agak curiga 🙂 mohon pencerahan..

Simpulan sementara kami:

(1) tim kewirausahaan sosial terindikasi berkompetisi tidak fair pada tiga vote: Like FB, Twitter, dan jempol. Khusus yang terakhir (jempol) kami belum sepenuhnya yakin, mohon diklarifikasi. Proses utk Like FB diindikasi dengan melakukan bom spam atau flood ke jejaring secara sembarang diluar jejaring mereka (atau entah penjelasan lain, mohon pencerahan dari kawan2 yg paham masalah ini)

(2) tim kewirausaahaan sosial nampaknya mengerjakan cara tidak fairnya pada masing2 jenis vote secara independen, itulah yang menyebabkan pergerakan statistikanya agak aneh sendiri. FB ‘dikerjakan’ duluan, lalu twitter ‘digarap’. Pada saat twitter kami komplain, vote-nya tidak bergerak. Tapi kemudian vote jempol tiba2 bergerak. Pengerjaannya terpisah satu persatu… Tinggal komentar aja yang sudah untuk diautomatisasi 😀

Karena kontak khusus BSM-Care tidak tersedia (email atau twitter, atau saya gak gak nemu ya? hehe), kalau mau telepon bakalan panjang dan bingung nunjukin screen shot nya, lalu upaya menempuh jalur kekeluargaan dan klarifikasi japri tidak berhasil utk menjadikan permainan lebih fair, maka daripada tiap kami bekerja keras selalu -terindikasi- di’curangi’, ya sudah saya mewakili tim menuliskan komplain detailnya di blog ini 🙂 palingan juga sy akan mention @syariahmandiri untuk pemberitahuan..

Bagaimana menurut teman2 semua? tolong luruskan saya jika saya salah..

 

 

 

 

Gara-gara BSM-Care buka pendaftaran buat program CSR yg kemudian bisa dipilih publik, saya dan rekan2 di gerakan #gurudigital jd antusias mengamati pergerakan perolehan suara vote-nya, baik like FB, tweet, jempol, dan komentar. Awalnya kami merangkak dari posisi bawah hingga kemudian masuk ke nomor 1, namun dalam beberapa hari belakangan ini ada sedikit yang ‘mengganggu’ :D. Salah satu program yang diajukan kawan lain dari bekasi  dgn judul Kewirausahaan Bersama tadi malam jam 12 sy tengok masih di 4400-an, tiba-tiba jam 7 pagi saya periksa sudah 6000-an, 1600-an like FB dalam 6 jam. Tidak apa-apa sih. Siapa tau mereka punya metode tertentu yang memungkinkan bisa cepat. Tapi itu membuat kami penasaran, metode apa yang dipakai bisa secepat itu? hehe.. disisi lain, kami perhatikan, vote twitternya juga melesat dgn cepat.

Okelah kita buka-bukaan, kalau kami vote FB-nya bisa 5000-an karena memang kami punya ‘pasukan’. Artinya, di lingkaran dekat kami saja sudah banyak yang siap untuk menyebarkan link ke jaringannya, dan kami kerjakan satu-persatu dengan mentautkannya ke jejaring Friends kami (bukan spam kan?) . So simple. Lingkaran dekat: rekan kantor, keluarga, dan teman-teman dekat yang mendukung gerakan #gurudigital dan siap berbagi tautan ke seluruh jejaringnya. Cadangannya cukup banyak. Belum lagi kalau ditambah jejaring #gurudigital yang walaupun belum banyak, tetapi misalnya begini: di SD RSBI-SMP Muhammadiyah 7 saja ada 80 guru yang ikutan workshop #gurudigital. Jika mereka diminta menyebarkan setidaknya ke 20 orang jejaring temannya, berarti sudah 1600 kan?? belum lagi di tambah dari sekolah lain tempat kami adakan workshop 🙂  Okelah kalau masalah fesbuk saya anggap no problemo.

Nah, utk twitter, kami hanya gunakan 4 akun: 2 akun pribadi dari 2 orang yang berbeda ( @adionggo dan @kafey ) dan 2 akun gerakan (@gurudigitaleuy milik gerakan #gurudigital dan @medresalabs produk pengembangan dr saklik yg mendukung gerakan #gurudigital) untuk menjejaringkan ke tweeps yang lain…. Nah, sekarang masalah muncul ketika kawan-kawan dari Kewirausahaan Bersama melakukan mobilisasi tweetnya dgn prinsip ‘dari kami, oleh kami, untuk kami’ nah lho kok bisa? gimana sih emangnya?

Ternyata begini caranya: mereka membuat puluhan akun twitter, lalu mereka saling me-mention antar akun 😀 (pinter juga nih, tp masalahnya boleh gak kayak gini? kalo boleh sama panitianya, gw juga mau dong 😀 biar jadi fair 🙂

mari kita lihat gambar per gambar:

dari gambar disamping kami klik angka di sebelah icon tweet, lalu muncul list sebagai berikut:

dari gambar diatas dapat dilihat akun @kewirausahaan12 me-mention akun @kewirausahaan11, @kewirausahaan10, dan @kewirausahaan9, kalau di scroll ke bawah ya masih @kewirausahaan(ke-X) hehehe. Lalu kami cek followernya :

yang rata-rata followernya dari belasan hingga puluhan per tiap akun, yang mana saling memfollow satu sama lain. Kalaupun ada yang diluar itu, mereka memfollow media massa atau akun yang dianggap mempublik (tapi bukan perorangan). Berikut ini gambar followernya:

Ini yang mungkin menjelaskan mengapa pada klik jempol dan komennya jadi sedikit (disparitasnya anomali dibandingkan dengan peserta dibawahnya). Mari kita simak gambar berikut:

kejomplangan dengan angka FB dan Twitternya relatif terhadap peserta lain di bawahnya, dimungkinkan karena mereka sedang fokus membombardir di FB dan twitter pada komputer yang sama. Kefokusan itu tidak mungkin bisa dibarengi klik jempol karena klik jempol hanya bisa diklik dari komputer yang berbeda. Secara statistik dengan mengkomparasi dengan angka2 hasil klik jempol di bawahnya, semestinya angka klik jempolnya lebih bergerak naik ke rata-rata kenormalan jumlah klik jempol, misalnya dikisaran 60-an keatas. Kalau komentar memang bisa komentar berkali-kali, namun karenafokusnya di FB dan twitter, mungkin mereka lupa bombardir komentar juga hehehe.. secara statistik, semestinya komentarnya tidak sejumlah 13 dengan melihat kaitannya dengan klik FB dan twitter, namun jauh lebih banyak dari itu.

Nah, Balik ke pertanyaan awal. Hal kayak diatas BOLEH atau TIDAK?? gimana nih panita dari BSM-Care nya? kalau memang boleh dilakukan, kami siap lakukan agar sama-sama Fair. Tapi kalau TIDAK BOLEH, ya kami akan komitmen terhadap aturan yang ditetapkan… Bagaimana menurut teman-teman? 🙂

Saya harus menjelaskan ini untuk mencerahkan rekan-rekan guru atau pendidik yang ingin membeli paket Wii-remote interactive whiteboard yang menggunakan wii-remote dari nintendo sebagai perangkat utama. Semua bermula dari ide kreatif dan cerdas dari Johny Chung Lee yang saat itu di Carniege Mellon University US, ia membuat sebuah alternatif penggunaan wii-remote dari nintendo untuk pembuatan interactive whiteboard. Dia sendiri membuat beberapa project berbasis alat wii remote itu. Project selengkapnya dapat dilihat di SINI.

Lalu kemudian software pendukung untuk kalibrasinya dikembangkan lebih lanjut oleh Goh Boon Jin dari Singapura yang membuat smoothboard untuk mengaktivasi dan mengkalibrasi wiimote dan layar yang akan dijadikan interaktif. tentang smoothboard bisa dilihat di SINI.

Sementara saya sendiri baru dapat infonya di awal tahun 2011 ini, beberapa penggiat pendidikan di Indonesia, misalnya di blognya bung Gora yang memposting tentang hal ini di tahun 2008 (lihat selengkapnya di SINI). Saya perhatikan, ini kemudian membuka peluang baru untuk dibisniskan jika dibuat paketan lengkapnya mengingat harga smartboard + software SMART-nya bisa mencapai di kisaran 20 juta-an per buah, sesuatu yang sangat mahal untuk hampir kebanyakan sekolah di negeri kita, apalagi penggunaannya difungsikan untuk satu kelas. Bayangkan jika di sebuah sekolah yang punya 10 kelas yang kalau dipasang smartboard tiap kelasnya, maka sekolah harus mengeluarkan 200juta hanya untuk pengadaan itu. Cape deh 😦

Maka alternatif wii remote interactive ini kemudian disambut beberapa kalangan di Indonesia dengan membisniskan paketan-paketan ini. Mereka membandrol harganya di kisaran 3-4,8 juta dengan nama yang macam2. Saya sendiri dan kawan-kawan di medresa foundation bandung, mencoba penggunaan wiimote interactive ini di SD RSBI SMP Muhammadiyah 7 Antapani Bandung, ini videonya:

Lalu mari kita coba hitung biaya pembuatan paket wiimote ini dengan asumsi paling mahal: wii remote satuan setelah dicek harganya 450 rb, software asli smoothboard-nya Boon Jin 300rb, tripod untuk tempat wii remote 75 rb, IR-pen tidak bikin sendiri beli yang kualitas bagus di ebay sekitar 160rb. Totalnya tidak sampai sejuta kan?? ini asumsi mahal, kalau bikin IR-pennya sendiri, harga IR LED VISHAY  TSAL6400 di surabaya hanya 6600/buah (saya juga punya stol harganya 5000/buah) + resistor + kabel+tempat spidol palingan abis gak sampe 50rb. Belum lagi kalau pakai softwarenya yang versi bajakan alias gratis hehe jadi bisa jauh lebih murah. Jadi data pertama, biaya pembuatan paket wiiremote interactive sendiri maksimum 1juta.

Tadinya kami ingin mengembangkan alat ini sehingga lebih mapan dan lebih bagus dengan merk sendiri, tapi sebelumnya  kami mencari dan membandingkan dengan produk yang mungkin sudah ada dipasaran. Dan ternyata hasilnya: memang sudah ada dan jauh lebih keren dari wiimote interactive (krn memang wiimote gak didesain khusus utk interactive whiteboard, tapi buat maen game). Kami coba Onfinity CM2 di kantor kami emang lebih keren dari pake wiimote. Yang belum tahu seperti apa onfinity CM2 bisa lihat video ini:

harga onfinity cm2 yang kami cari di pasaran di kisaran 5 juta-an, tapi kami dapat seorang penjual yang bisa menekan harganya hingga 4 juta-an 😀 . Sementara itu, kami coba cari lagi yang lain, tidak sengaja kami bertemu kawan lama di kampus dulu pada saat jalan-jalan di sebuah mall di bandung, dia sedang bertugas jadi sales executive untuk produk vimeo yang katanya keluaran PT.Satusolusi. Ini videonya:

temen saya menawarkan harganya 4,5 juta. wah harganya lebih murah dari harga Onfinity Cm2 yang normalnya di 5juta-an dengantampilan dan kinerja yang gak kalah canggih 😀 tapi temen saya itu kasih clue: ini produk cina 🙂

nah, lalu kami cari dari china-nya langsung, dan nemu benda yang sama persis dengan Vimeo yang bernama i-interactor, yeaaaa…jadi tau darimana si Vimeo asalnya. Dan harga yang kami dapatkan untuk i-interactor adalah 2jutaan :p (kalo dihitung dengan biaya lain2nya yaa mendekati 3juta lah/buah), jadilah kami langsung beli dari cina, barangnya persis sama dengan vimeo dan memang Vimeo=i-interactor. Ini videonya i-interactor (silahkan buka di tab baru):

http://v.youku.com/v_show/id_XMjE2NDQ3Mjg0.html

kami coba di kantor dan hasilnya memang oke banget, sama kerennya dgn onfinity cm2, lalu i-interactor ini bisa autocalibration yang sangat mudah hanya dalam waktu 6-10 detik, barangnya simpel, portable, tidak perlu pakai bluetooth krn via USB, IR-pennya juga bisa klik kanan, punya pointor, dan jg punya edu-softwarenya untuk pendidikan meski masih jauh kelasnya di bawah software SMART besutan Smart Technologies, tapi saya yakin mereka bakal terus mengembangkan untuk secanggih SMART. Jadi data kedua, ada beberapa produk diluar wiimote interactive yang kisaran harganya 2-5jutaan.

Karena saya punya ipad2, lalu saya mencari apps untuk guru. Hasilnya, nemu beberapa apps yang mendukung interactive whiteboard, salah satunya yang simpel adalah apps ShowMe. Berikut ini video saya pake ShowMe:

saya juga punya penyambung ipad ke proyektor. Jadi dengan ipad+apps interactive whiteboard yang FREE, guru malah bisa sambil jalan2 dan nulis dari ipadnya tanpa perlu nulis secara elektronik di depan layar/papan tulis 🙂 . Nah, harga ipad1 yang 16GB non 3G sekitar 4-5jutaan ya, klo ipad 2 di sekitar 6 jutaan. Hasil pakai ipad ini tulisannya sangat halus banget, dan tidak perku IR-pen, cukup pakai tangan kita :). Data ketiga, pakai ipad sudah memungkinkan untuk interactive whiteboard.

Nah, suatu ketika saya mencari di internet, lalu ketemulah beberapa orang Indonesia yang buat paketan Wii-Remote interacttive whiteboard dengan bandrol harga 4,5-4,8juta. Busyeeet. Saya gak akan sebut merk-nya apa saja, silahkan cari sendiri di toko-toko online terkenal. Lalu suatu ketika yang lain, ketika kami ingin mengembangkan usaha dengan membuka kredit laptop dan tablet, ternyata keuntungan bersih rata-rata penjualan laptop hanya sekitar 150rb saja :). kalau begitu, jika bikin paketan wii-remotenya saja cuma maksimum 1juta, lalu ada produk yang lebih canggih dan lebih mapan di kisaran 2-5juta, lalu jualan laptop saja untung bersih per laptopnya cuma 150ribu, maka yang jualan paketan wii-remote interactive whiteboard mengambil untung yang gila-gilaan: dari 1 juta ke 4,5 atau 4,8 juta 😀 OMG. Kalau harganya mirip, kenapa gak beli i-interactor saja yang max-nya 3 jt ato Onfinity cm2 yg 5 jt sekalian canggih? daripada beli wiiremote yang masih banyak keterbatasannya juga hehe 😀

Nah, suatu ketika yang lain, saya didatangi seorang dari daerah (kabupaten tententu) yang memiliki akses dan jaringan baik ke sekolah dan dinas pendidikan di kabupaten tersebut. Ia bercerita tentang kebutuhan interactive whiteboard karena memang menarik dan baik untuk diimplementasikan. Untuk awalan, dia bilang dia sudah beli contoh sebanyak 3 buah paketan wii-remote interactive dengan harga per buah 4,5 juta (jadi 13,5 juta cuma buat 3 paket wiimote?ngeriii). Lalu di ajuga bercerita ada sekolah yang minat banget tapi 4,5 juta dirasa kemahalan (emang sih buat kebanyakan sekolah negeri kita, ini realitas), jadi karena ngebet banget akhirnya kredit ke salah satu lembaga kredit sehingga jatuh-jatuhnya harga itu paket wii-remote 7juta. Ya Allah, kenapa gak sekalian aja beli ipad2 udah dapet tuh :(( huhuhu… Lebih stress lagi ketika saya diinfokan bahwa pembelian-pembelian itu berasal dari anggaran dana BOM dan BOS yang dikucurkan pemerintah untuk sekolah. Beneran nangis deh saya 😀 Belum lagi kalau ternyata barang-barang yang telah dibeli mahal itu kemudian tidak terlalu banyak fungsinya karena secara kultural dan skill guru-gurunya masih banyak yang masih belum melek ICT :(( nangis ganda deh gw..

Rekan-rekan semua yang budiman, dunia pendidikan kita ini butuh banyak pertolongan bukan eksploitasi bisnis. Benar bahwa bisnis sangat boleh di bidang pendidikan, tapi kalau sampai eksplitatif, saya kira itu sudah tidak etis lagi. Silahkan rekan-rekan yang mau membisniskan paketan wiiremote interactive, tapi ambil keuntungannya juga jangan kebangetan dong, ya dijualnya 1,5 juta saja kan sudah untung sangat lumayan tho? mosok sampai 4,5-4,8 juta?? Kami sendiri memang membuat paketan kayak gini juga yang dibandrol 1 juta rupiah dengan keuntungan bersih per paket buat kami 200ribu rupiah, itupun biaya keuntungannya akan dipakai untuk pendanaan gerakan sosial kami gerakan #gurudigital untuk adaptasi kultural dan akselerasi penggunaan dan integrasi ICT bagi guru dan pendidik dalam pembelajaran dan pendidikan secara cuma-cuma alias GRATISSSSSSSS…dah dulu ah saya mau beraktivitas lagi, mudah2an tulisan ini dapat membantu dan mencerahkan semua tanpa tendensi kebencian untuk menjatuhkan yang sedang berbisnis 🙂

Note: Masih kebayang euy 13,5jt dikeluarin cuma buat beli 3 paketan wiimote interactive 😦

Twitter di pakai untuk pembelajaran di kelas? bagaimana mungkin? Jawabannya: sangat mungkin! 🙂 Berikut ini penjelasan saya yang sudah saya tweet-kan kemarin di twitland, saya rekam ulang dalam bentuk narasi di storify. Langsung saja gan menuju tekape link storify di bawah ini:

View “Twitter Untuk Pembelajaran” on Storify

 


Blog Stats

  • 11,784 hits

Pages

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.