adi onggoboyo’s note

Tatkala tradisi lisan transfer pengetahuan bertemu dengan situasi digital, muncullah cara baru untuk dikembangkan sebagai metode pembelajaran: Digital Storytelling!

Digital storytelling pada dasarnya adalah suatu kegiatan mengkombinasikan narasi cerita dengan konten digital, yang didalamnya termasuk gambar, suara, musik, atau video, sehingga dihasilkan sebuah film singkat yang menarik. Digital storytelling dapat dibuat dalam format instruksional untuk pengajaran, persuasif, historis, atau sebagai kegiatan reflektif. Banyak ahli pendidikan percaya bahwa digital storytelling dapat diterapkan di berbagai mata pelajaran, dan dapat mengakomodasi berbagai macam gaya belajar siswa.

Pada penerapannya, sebagai contoh di dalam mata pelajaran ilmu-ilmu sosial untuk siswa. Pertama, siswa ditugaskan untuk melakukan riset kecil atau observasi terkait situasi sosial kemasyarakatan yang mereka minati, yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dari suatu bab pembelajaran. Penugasan ini bisa bersifat individual atau kelompok. Penugasan kelompok punya sisi positif untuk meningkatkan kemampuan kerja sama, problem solving, dan saling menghargai perbedaan, yang semuanya itu adalah kompetensi lain yang harus dikembangkan dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Kedua, setelah siswa mendapatkan data, mereka melaporkannya melalui rangkaian kombinasi narasi yang diucapkan siswa secara verbal dengan konten digital dalam sebuah digital storytelling. Format pelaporan ini akan menjadi lebih sederhana dibandingkan dengan format tata tulis karya ilmiah yang kerap membuat siswa agak malas membuatnya, karena sangat rigid dan formal tata aturan penulisannya. Siswa hanya membutuhkan sedikit keterampilan untuk software pengolah konten digital seperti Photostory atau Movie Maker, ditambah dengan mikrofon untuk pengisian suara.

Ketiga, hasil digital storytelling yang dibuat siswa akan diapresiasi bersama, didiskusikan di dalam kelas, atau bisa juga dikompetisikan di sekolah. Keempat, semua digital storytelling karya siswa dapat kemudian di unggah melalui jejaring sosial di internet untuk saling berbagi, berpartisipasi, berkolaborasi lebih lanjut, mendistribusikan pengetahuan untuk spektrum yang lebih luas.

Untuk pembelajaran bidang ilmu-ilmu sains, bisa dikreasikan misalnya dengan pembuatan digital storytelling untuk praktikum biologi, fisika, atau kimia. Pada tataran ini, guru dapat melihat laporan proses jalannya percobaan yang lebih objektif, dan bisa menyimpulkan apakah siswa sudah melakukannya dengan benar atau tidak, sehingga guru dapat meminimalisir peluang terjadinya manipulasi data yang dilaporkan oleh siswa secara tertulis. Untuk pelajaran bahasa inggris, digital storytelling akan sekaligus mengasah kemampuan berbahasa inggris dengan baik dan benar. Pada intinya, metode digital storytelling dapat dipakai di semua mata pelajaran.

Banyak keuntungan menggunakan metode ini. (1) Memperkaya cara pendekatan lisan yang selama ini kerap dipakai sebagai alat transfer nilai dan norma, (2) Siswa mengekspresikan diri mereka tidak lagi dengan kata-kata tertulis, namun juga dengan suara yang terintegrasi dengan konten digital, membuat rasa memiliki yg baik terhadap karya, juga sebagai representasi diri yang meneguhkan identitas mereka, (3) membuat pembelajaran lebih menarik, lebih menantang, tidak membosankan, dan berpeluang untuk mengasah semangat kompetisi, mengembangkan kreativitias dan inovasi, kebersamaan dalam kelompok, sekaligus bagi guru dapat menjadi tempat untuk memberikan penghargaan yang baik atas karya siswa, (4) memungkinkan diproduksi secara rutin untuk di distribusi dan kemungkinan dikolaborasi lebih lanjut melalui partisipasi melalui media sosial di internet, sekaligus mempercepat tersebarnya konten pengetahuan untuk semua.

Advertisements

Berbicara teacherpreneur, yang mungkin terbetik di dalam pikiran kita -karena ada preneur-preneur nya- adalah sesuatu yang berkaitan dengan guru yang menjadi pengusaha. Agar tidak saya ulang, berikut saya copy-kan tweet sy beberapa waktu lalu tentang teacherpreneur:

(1) lg mikir&renung, di amrik sono muncul ide ttg teacherpreneur, naon deui eta?, (2) klo sepintas ada preneur2-nya kira2 bgmn guru jg bisa punya jiwa kewirausahaan yg bs membuat mrk lbh mapan scr pendapatan, (3) tp klo pas baca2, teacherpreneur tdk berfokus pd uang, tp pd leadership, inovasi dan pengembangan diri seorang guru diluar tgs ngajar, (4) mesti dilihat bhwa konsep teacherpreneurship muncul dlm situasi latar guru2 di amrik, bkn di Indonesia #teacherpreneur, (5) dimana di amrik dlm sebuah skolah, rata2 dikelola scr profesional dgn tugas org2 yg terlibat di dlmnya sangat spesifik #teacherpreneur, (6) inti dr teacherpreneur adlh memperluas role seorang teacher mjd multi-role tdk skadar fokus pd siswa n kelas #teacherpreneur, (7) tp ia bs jg sbg writer u/buku sekolah, dosen universitas, ikut dlm aktivits kebijakan publik, curriculum specialist, dst #teacherpreneur, (8) dlm konteks amrik, teacherpreneur jd konsep menarik, tp *mnrt sy* dlm konteks indonesia, rasanya jd bkn hal baru #teacherpreneur, (9) di Indo, guru yg multi-role ckp bnyk ditemui,hny sj motifny beda, bnyk yg krn motif survival u/kelayakan hidup lbh baik #teacherpreneur, (10) lbh baik disini mksdny scr finansial. Jd finansial dl, br isu pngembangan diri.Di amrik,yg lbh dpn pngmbangan diri dulu #teacherpreneur, (11) nah,jika mo nerapin konsep teacherpreneur di indo, mesti di redefinisi ulang dan di re-model scr kontekstual qt #teacherpreneur, (12) dimna motif pngmbngnd diri + inovasi itu dimotifkn lbh dulu, br finansial mnysul otomatis #teacherpreneur, (13) tp ada catatan lain, semua tgs guru yg dirasa krng pnting, hrs dibuang, skolah hrs berani menetapkan prioritas #teacherpreneur, (14) sekolah progresif transformatif hrs lbh fleksibel-kritsi dlm penerapan konten yg kerap imperatif dr struktur kekuasaan #teacherpreneur, (15) di amrik,yg namany RPP segede tesis kyk di indo brikut sgala analisis jelimetny GAK ADA, lesson plan sngt simpel #teacherpreneur, (16) klo skolah brani,dobrak kejelimetan yg kntraproduktif yg bwt guru fiktif u/ brkmabng scr kontentual u/dganti inovasi br #teacherpreneur, (17) shg pd akhirny guru bs lbh optimis, brkmabng akseleratif, berdaya guna dan konsep #teacherpreneur lbh bs diujiterapkan dgn baik, (18) mnemukn sosok guru yg mngkin dkt dgn konsep #teacherpreneur yg sy pahami spt pa agus @gurukreatif dr bintaro n pak jay dr labschool jkt, (19) qt bth bnyk guru kyk mrk @gurukreatif, mdh2an gerakan @gurudigitaleuy bs memulai lngkah kecil itu.tetap semangat! 🙂 #teacherpreneur

Dari penjelasan diatas, saya berfikir bahwa kalau konsep teacherpreneur diterapkan di sekolah dengan mengacu pada kekuatan guru seperti pak agus sampurno sang @gurukreatif, maka setidaknya konsep ini bisa sangat powerful jika dipakai pada sekolah swasta pada khususnya. Mengapa sekolah swasta? pada umumnya sekolah swasta bergantung pada jumlah murid yang masuk. Karena banyak sekolah swasta yang hanya mengandalkan kapital dari input siswa yang masuk, pada akhirnya hal tersebut berpengaruh pada pendapatan guru-gurunya. Pun jika sekolah swasta tersebut katakanlah favorit, pada kenyataannya banyak dari guru sekolah swasta memilih pindah ke sekolah negeri, atau bisa juga meski sekolah swasta tersebut bergengsi namun pendapatan gurunya jika dikomparasi dengan pekerjaan profesional lainnya, akan tergolong kecil. Dengan alasan keterbatasan dan pengketatan finansial, sekolah swasta pada akhirnya juga kurang memiliki kesempatan lebih baik untuk program pengembangan profesional guru-gurunya: sebab, program2 usulan yang banyak masuk ke sekolah dari pihak luar untuk pengembangan guru biaya trainingnya tidak terbilang murah.

Nah sekarang, bagaimana jika kita ekspansikan konsep teacherpreneurship ini dengan situasi umum sekolah swasta tersebut? caranya bagaimana?:

1) Di tahap awal, sekolah/yayasan harus mengeluarkan energi dan biaya untuk melakukan training intensif tentang semua hal yang berkaitan dengan pengembangan profesional guru, khususnya terkait dengan pembelajaran di dalam kelas. Pada titik ini, diharapkan akan lahir guru-guru yang sudah terlatih dan lebih keren dari sebelumnya.

2) Aplikasikan konsep-konsep yang sudah dipelajari di training pada pembelajaran di kelas atau pada kegiatan guru yang berhubungan dengan pendidikan.

3) Guru-guru tersebut kemudian akan sudah memiliki pengalaman yang baik. Mereka sudah mulai mahir. Pada titik ini para guru mesti dipandang sebagai seorang yang ahli/profesional yang siap mentransfer pengetahuan dan pengalamannya kepada guru-guru lainnya atau tatkala mereka harus bicara tentang dunia pendidikan di negara kita.

4) Guru-guru dipacu untuk sharing pengalaman dan pengetahuannya via dunia social media. Lalu Yayasan/sekolah mulai memperbolehkan fleksibilitas terbatas guru-gurunya untuk pengembangan diri lebih luas dengan cara berbagi dengan guru-guru di sekolah lainnya via format-format training yang diduplikasi atau memang dibuat sendiri secara kreatif. Yayasan/sekolah akan berfungsi sebagai semacam ‘lembaga training/konsultan pendidikan’ yang SDM guru-gurunya siap untuk bicara tentang segala aspek dunia pendidikan (apalagi hingga masalah teknis dalam pembelajaran).

5) Yayasan/sekolah mencari ‘klien’ apabila ada sekolah lain yang membutuhkan training untuk guru-gurunya, atau guru dapat aktif mencari sendiri peluang sekolah-sekolah yang guru-gurunya perlu untuk ditraining. Model lainnya, Yayasan/sekolah dapat mencari sponsor atau kerjasama dengan CSR perusahaan-perusahaan untuk membiayai training-training yang diadakan buat guru.

6) Jika kemudian ada ‘klien’ yang perlu untuk ditraining, maka yayasan/sekolah dapat menugaskan guru di sekolahnya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Atau kalau dari gurunya duluan yang dapat ‘klien’, yayasan/sekolah hendaknya mengizinkan guru tersebut untuk berangkat menjadi trainer pendidikan sekalipun itu di luar pulau di seluruh nusantara selama tidak mengganggu jam mengajar di kelas.

7) dari poin 6, maka guru-sekolah/yayasan dapat melakukan profit sharing untuk keuntungan masing2. Selain itu, sekolah swasta tersebut akan dapat keuntungan lebih yaitu: Nama sekolahnya sekaligus makin dikenal banyak kalangan. Guru dapat keuntungan finansial, pengembangan diri dan kepribadian, pengembangan wawasan dan cara pandang (apalagi jika mesti ke berbagai daerah sharing dengan guru2 di berbagai penjuru), pengembangan profesionalitas kerja, dan tentunya peningkatan pendapatan 🙂 dan juga guru tersebut akan makin mahir dalam pembelajaran pada saat mesti kembali ke sekolahnya. Selain itu, hal ini juga merupakan kesempatan yang bagus untuk studi banding dengan sekolah sekolah lain sehingga ketika banyak guru dari sekolah yang bersangkutan ingin mengembangkan sekolahnya, ide-ide untuk pengembangannya yang lebih konstruktif jadi lebih kaya 🙂

Konsep teacherpreneurship ini juga pada akhirnya dapat berefek pada makin percaya dirinya para guru untuk berbicara pada kapasitasnya sebagai guru yang juga merangkap ahli-praktisi pendidikan. Jadi, SUDAH SAATNYA GURU YANG BERBICARA tentang tetek bengek pendidikan di negeri ini agar lebih membumi dengan situasi aslinya di lapangan. Guru harus yakin dan percaya bahwa mereka pun sanggup untuk maju dan bicara banyak tentang dunia pendidikan yang mereka geluti, dan guru harus yakin dan percaya bahwa profesinya bukan sembarangan profesi, suatu profesi yang keren dan tidak kalah dengan profesi-profesi lainnya.

Maju Terus Pendidikan Indonesia!

Jadi berfikir banyak tatkala master unlock mental block mas ismal zeva mengajak saya untuk ikut dalam training hypnoteching untuk para guru se-Sumatera Barat di Bukittinggi beberapa hari lalu. Selain membantu mas ismal, saya disana memberikan pengantar materi tentang penggunaan ICT bagi guru untuk media kedekatan dengan siswa.

Mas Ismal banyak berkutat pada konsep-konsep yang berakar pada Neuro Linguistic Programme (NLP) yg dipadu dengan seni komunikasi yang berujung pada siswa yang ter’hipnotis’ untuk terus fokus pada guru dan konten pembelajaran yang disampaikan guru. Dalam beberapa hal, sosiologi yg saya pelajari, agaknya bakalan powerful jika dikombinasi dengan konsep-konsep NLP dan penggunaan ICT untuk pembelajaran.

Dalam framework pendidikan abad ke-21, salah satu fokus penting yang ditekankan untuk para guru adalah literasi media, informasi dan ICT skills. Saya menyajikan banyak sekali data-data yang menunjukkan bahwa dunia digital dan social media di Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Beberapa diantaranya ialah fakta bahwa pengguna Facebook Indonesia adalah yang terbanyak kedua di dunia setelah amerika serikat. Kemudian Jakarta merupakan salah satu pemposting blog teraktif di dunia. Di Indonesia, 8 dari 10 orang mengakses internet melalui mobile. Dan masih banyak lagi data-data yang menunjukkan bahwa siswa kita hari ini, adalah DIGITAL LERNERS, pembelajar digital…

Pada titik itulah guru mendapatkan sebuah tantangan baru untuk bisa melek penggunaan ICT dalam pembelajaran dan pendidikan, atau jika tidak, kemampuan siswa akan jauh melampaui gurunya. Semangat itu selaras dengan salah satu framework pembelajaran abad 21 dimana guru harus punya kemampuan adaptabilitas dan fleksibilitas yang tinggi terhadap perubahan. Guru harus terus menjadi seorang pembelajar.

Pada struktur dunia rata di jagad mayantara, tentunya akan mengakibatkan siswa juga mengalami perubahan behavior yang tidak seperti halnya di dunia nyata. Perubahan ini harus disikapi secara arif bijaksana sebagai suatu hal yang lumrah dan bukan untuk ditindak secara defensif. Guru dihadapkan pada tantangan lain untuk memahami karakteristik dunia virtual untuk dapat mengadaptasikan diri dengan perubahan yang cepat.

Dalam struktur rata itu, guru yang terbiasa stratifikatif akan dimungkinkan mengalami cultural shock. Posisi yang saling egaliter ini pada gilirannya juga menggeser paradigma guru-murid sebagai sama-sama pembelajar dan saling belajar, dan keduanya bisa berperan saling terbalik.  Bagi sebagian siswa, situasi yang egaliter itu termanifestasikan dalam simbol simbol struktur lain seperti struktur verbal linguistik. Strateginya, penggunaan struktur bahasa verbal ke siswa dapat bergeser menjadi lebih egaliter untuk menjangkar emosi siswa, misalnya pengubahan kata ganti Bapak atau ibu menjadi saya atau aku. Guru juga ditantang untuk memanipulasi, memodifikasi, dan mengelola resource struktur sosial dan informasi untuk menyamakan ‘frekuensi’ dengan siswa yang diajar.

Bahasa psikologisnya, guru menyamakan ‘frekuensi’ siswa untuk pada akhirnya menghipnotis siswa sehingga fokus terhadap guru dan konten pembelajaran yang ditransmisikan atau di diskusikan. Secara sosiologis, memanipulasi struktur dapat misalnya dengan penggunaan maksimal ICT untuk pembelajaran. Guru yang terbiasa bicara hanya dengan salah satu jenis intonasi kinestesik, akan terbantu dengan komplemen audio atau multimedia guna memfasilitasi para pendengar yang memiliki tipe belajar auditori dan visual. Guru bisa juga membuat digital storytelling di awal/akhir proses pembelajaran untuk menginspirasi atau memotivasi siswa, atau bahkan bisa langsung connect ke konten pembelajaran (sebagai penghubung yang terhubung). Guru juga bisa menggunakan social media untuk ‘membongkar’ dinamika siswa sehingga relasi emosi guru-siswa sangat kuat.

Ayo rekan guru Indonesia, kita intensifkan percepatan dan adaptasi kultural penggunaan ICT utk pembelajaran, sekaligus untuk meminimalkan digital divide untuk skill IT bagi para guru. Transformasi untuk kemajuan pendidikan! Maju terus pendidikan Indonesia..

Seperti biasa gan, bacanya dari paling bawah ke atas, jangan sebaliknya.. 🙂 selamat membaca

 

(20) udah dulu ah, mo ngerjain yg lain 😀 ngabisin bnyk waktu dlm pesona twitter apakah jg ‘trjebak dlm hiperrealitas’ yg semu? hihihi

(19) jika rakyatnya ga sadar tlh terjebak dlm hiperrealitas online itu, ia tlh terkena hegemoni kekuatan media online yg luar biasa!

(18) hehe mngkin jd pertarungan ‘penjebakan massif’ rakyat dlm wacana yg silih bergulir *yg kuat dia yg menang*

(17) mo bener mo salah,jika kepala suku online bilang A,serentak hmpir semua pengikutny membebek buta. apa bedanya?feodalisme gaya br-kah?

(16) klo cm ngasal ikut kepala suku, maka trjadi figuritas br yg ga kalah dahsyatnya dgn dunia offline..

(15) tantangan buat audience online: hrs selektif dlm memfilter informasi.Jejak2 komen yg dibuat org bnyk, blm tentu bermotif semuanya..

(14) buat org2 kyk sy, itu berarti semua lokus sama pentingnya,yg jd pejabat klo merasa sok paling pnting ato paling berkuasa,ke laut aja lu

(13) bs dilihat bhwa gvernment hrs dpandang sbg entitas sndiri yg brnegosiasi dg entitas2 yg lain, jd asumsiny *sy lbh suka*tdk stratifikatif

(12) government di dunia online krng trasa efek strukturny (tajinya) drpd lokus2 suku online lain yg brmain.mrk setara dlm sirkuit informasi

(11) hmm, kemunculan dunia online relasi kuasanya jd lbh gede thd hal lain, berarti dunia online hrs dipndng sbg suatu yg strategis

(10) kok media konvensional mau utk ‘terpengaruh’ dr dunia online lalu mengamplifikasi scr massif utk rakyat?

(9) klo diitung2 kuantitas, utk indonesia, total pengguna internet br sktr 10% dr penduduk, akan lbh kecil lg yg aktif di dlamnya..

(8) endingnya kuat2an, kpala suku bilang A, kontra dgn kepala suku B,maka keributan di para pengikut2 setianya yg udah pny ideologiny sndr2

(7) pertarungan wacana trkadng jd tdk fair krn audience blm tentu pnya akses utk tahu komen2/argumen yg diblok oleh seseorang…

(6) lokus2 suku online di dunia online akan makin kokoh batas2ny krn kontrol utama ada di individu masing2 yg bs memblock yg dia mau

(5) brpotensi menggiring opini massa atau bhkan melatahkan media massa offline utk mengambil sumber darinya..

(4) krn demografi dunia online indo didominasi o/ klngan kelas menegah trdidik perkotaan, maka ‘suku online’ ini akan brpotensi kuat

(3) jika kotak2 dlm offline trsebar pd geografis yg berbeda, di dunia online, kotak2 itu menguat dalam lokus-lokus ‘suku online’ baru..

(2) jika dicermati, meski dunia online nampak blur dan cair, namun sesungguhnya memunculkan kotak2 baru yg lbh masif

(1) dunia online scr kultural egaliter, secara struktural terstratifikasi. Konten dan kontinuitas jd 2 kata kunci..

 

riwayat nge-tweet pagi  ini pake twitter, bacanya DARI BAWAH ke ATAS ya..

#pertanyaan lanjutan: struktur-nilai-norma sekolah adaptasi ke online atau sebaliknya atau dikotomis atau dikompromi jd konvensi baru?

#guru skaligus sbagai siswa dan siswa skaligus sebagai guru,fungsi relasiny adlah fasilitator,fungsi prsahabatan abadi dlm dunia brbagi ilmu

 #di dunia struktur rata, struktur guru-siswa hendaknya jg berubah format, mrk hrs lbh egaliter: sesama pembeljar yg saling belajar

 #di sekolah berjilbab rapi di online buka-bukaan, klo mrk online dr skolah dan berkicau yg dianggap mlnggar aturan sklah, hak skolah apa?

 #apakah kmudian tata aturan skolah bs mengikat ruang-struktur lain yg dikerjakan siswa (online)? siswa mengalami gegar kultural yg ekstrim 😀

 #trlebih jika siswa mlakukan aktivitas online-ny di sekolah:mrk brada pd dua ruang-struktur brbeda sekaligus dgn 2 tata nilai yg ekstrim beda

 #misal pd sekolah2 islam yg strict/khas tata nilai normany di skolah, jg sekaligus bingung melihat disaat yg sama siswany melanggar di online

 #batas struktur offline-online berikut tata nilai norma-ny mjadi blur pd saat sekolah dhadapkan pd situasi simultan para siswa online dr sklh

 #Struktur rata di dunia online akan membawa perubahan behavior orang2 yg berkelindan setara di dalamnya, para guru hrs bs adaptasi dgn ini

 #’suku2′ yg terbentuk terbangun pula perangkat kultural lainnya, nilai n normanya, n kerap spt memfigurkan sang ‘kepala suku’, ia berpengikut

 #dalam dunia yg rata secara struktural egaliter, namun pada hakikatnya secara kultural terstratifikasi, lbh jauh membentuk ‘suku’ sendiri

 #konten mnjadi acuan baru ‘stratifikasi dunia rata’ tp jg blum tentu konten yg berkonten,lebih pd konten yg konsisten dgn frekuensi yg teratur

 #dalam dunia online, struktur sosial mengalami perubahan, dari konvensional-hirarkies menjadi egaliter. tdk lg struktur kaya, ganteng, jabatan

Iseng-iseng searching nama saya sendiri di google, yang keluar mayoritas mengutip hasil ‘riset’ saya tentang blog tahun 2004 silam. Barangkali ini adalah salah satu kekuatan sekaligus kelemahan dari informasi yang beredar di internet: ia beredar dengan cepat namun verifikasi kesahihannya sebetulnya masih dipertanyakan. Saya justru hanya ingin klarifikasi, bahwa apa yang saya lakukan 7 tahun silam itu sesungguhnya hanya survey sederhana tentang pengguna blog Indonesia yang masih sangat jauh untuk dikatakan ilmiah. Jadi tidaklah benar bahwa itu adalah hasil penelitian yang sudah oke. Bahwa hasil tersebut kemudian sempat menang pada ajang pemilihan peneliti remaja indonesia tahun itu, bukan lantas berarti penelitian itu memang baik. Catatan pentingnya adalah ajang itu di level usia mahasiswa yang dengan demikian juga tingkatan berfikirnya masih newbie.   Saya sendiri kalau sekarang baca lagi hasil-hasilnya jadi suka mentertawakan diri sendiri karena memang mulai dari proses hingga hasilnya masih acakadut, walau memang sedikitnya bisa menggambarkan situasi ‘kulit’ secara umum pengguna blog di saat itu (bukan sekarang lho!). Jadi studi tersebut tidak dimaksudkan dalam bentuk analisis yang mendalam, namun hanya merupakan petunjuk awal guna pijakan penelitian lanjutan terkait dengan dunia blog, khususnya di Indonesia saat itu.

Terlebih waktu zaman itu saya masih mahasiswa, yang sedang euforia semangat untuk menelaah hal-hal yang menarik tapi sesungguhnya landasan dan kajian mendalamnya masih jauh dari yang seharusnya hehe. Nah, pas waktu euforia seorang newbie itu, terlebih pas setelah menang peneliti remaja, semangat sharing risetnya ke orang lain jadi sangat tinggi, jadilah sebagian kontennya di share ke kawan-kawan via internet, sebagian orang dikirim versi lengkapnya (yang simpel dan kacrut itu! hehe). Tapi ternyata kalau melihat kutipan orang-orang tentang survey sederhana itu, entah darimana asalnya, tau-tau ada yang menyebut ‘seorang ahli blog’, atau ‘peneliti blog’ atau atribut lainnya hingga kesannya ini penelitian benar-benar ilmiah hihihihi, padahal -sekali lagi- hanya berbentuk riset survey sederhana untuk petunjuk awal saja. Ini yang justru menarik dicermati, bagaimana dunia interaksi ruang maya juga punya potensi besar mengkontruksi distorsi-distorsi yang kemudian ditransfer-komunikasikan ke orang lain secara global. Pada titik inilah, saya belajar bahwa kajian ilmiah yang mengambil sumber dari internet yang tidak lengkap dan jelas asal-usulnya, atau ketidakjelasan akan suatu tata syarat dan ketentuan tertentu, maka akan berhadapan dengan tantangan kesahihan kontennya. Paling aman memang mengambil sumber-sumber kajiannya dari situs-situs penyedia jurnal hasil riset yang terpercaya 🙂

Lalu tiap orang mengalami proses kehidupannya masing-masing, dan tentunya saya selalu mencoba melihat spion sejarah masa lalu saya untuk refleksi ke depan bergerak ke arah yang lebih baik. Selepas menamatkan kuliah pascasarjana beberapa tahun silam, saya sudah tidak mengamati lagi dinamika blog atau social media terkini. Wilayah kerja saya bergeser ke bidang praktis di dunia pendidikan sebagai guru sekolah, dan sekarang membangun yayasan bersama kawan-kawan untuk bergerak di bidang pendidikan. Jadi, kalau mau bertanya tentang masalah blog, social media, atau sejenisnya, tanyakanlah pada ahli yang menekuni atau praktisi di bidang itu. Saya hanya seorang guru sekolah biasa 🙂

Keniscayaan perubahan dapat bersifat cepat atau lambat. Andai serpih-serpih dalam kehidupan kita tidak berjalan dalam rangkai-rangkai yang ekstrim atau tidak dipicu dalam dinamika yang penuh energi, maka kecenderungan perubahan yang melambat akan terjadi. Tatkala horizon waktu merambat menghabisi usia, dalam suatu ketaksadaran yang perlahan tapi pasti, rasa akan stagnasi kehidupan dimungkinkan terjadi. Di saat tiba-tiba diri berfikir bahwa pikiran tidak seenergik pada kutipan masa lalu untuk berfikir keras tentang hakikat kehidupan dan rasa penasaran yang tinggi pada ilmu pengetahuan, maka dititik itu stagnasi akan pikiran mulai terasa. Bahwa larut dalam sebuah dinamika struktur baru di ruang-ruang kerja yang begitu monoton, penuh formalisasi administratif, relasi antar struktur yang penuh multimuka multitafsir, ditambah dengan intrik-intrik tak elok di lingkup kecil: Semula sadar lalu biasa hingga ketidaksadaran menghinggap dan membuat pada suatu titik stagnasi.

Lebih celaka tatkala mengkontemplasikan situasi lebih dalam lagi bahwa stagnasi pikiran itupun bergerak sejalan dengan perilaku dan cara bergerak. Akselerasi positif untuk peningkatan perilaku yang lebih matang, dinamika gerak yang lebih bergairah, menjadi ikut-ikutan tumpul: mereka dikendalikan oleh pikiran.

Baiklah, benar bahwa bahwa yang dianggap kecil tidaklah kemudian tidak berarti dan yang nampak lebih strategis adalah langkah besar: tapi semua langkah yg dipilih-selama dalam rangka ketundukan ibadah kepadaNya dgn memurnikan keikhlasan- adalah langkah-langkah besar. Tapi kemudian, ketika diri mengobservasi dirinya sendiri untuk mengoptimalisasi pilihan-pilihan takdirnya, tidak selamanya langkah-langkah kecil yang ikhlas akan cukup bagi orang-orang yang punya kapasitas melakukan langkah-langkah strategis yang ikhlas. Meski dua-duanya dibalut keihkhlasan, pertanyaan yang kerap menggelayut itu ialah: jika dirimu diberi potensi yang lebih besar untuk melakukan kerja dalam sekup membawa maslahat pada situasi yang lebih luas, tapi dirimu melakakukan kerja di lingkup kecil, bagaimanakah selisihnya itu? apakah bakal dimintai pertanggungjawaban sebagai semacam kesalahan?

Inilah saatnya bangkit lagi dalam bangunan kesadaran baru yang akan mewujudkan cita-cita mulia itu!

Blog Stats

  • 11,651 hits

Pages

Twitter Updates